
Tanjungpandan — Pemakaman Satya Mulya, yang terletak di tengah kawasan permukiman padat, menyimpan jejak sejarah penting berupa makam para bangsawan yang masih berdiri kokoh di antara nisan-nisan masyarakat umum.
Meski kini berfungsi sebagai pemakaman publik, sejumlah struktur makam di lokasi ini menunjukkan status sosial tinggi dari para penghuni terdahulu.
Di bagian tengah pemakaman, terdapat satu kompleks makam yang posisinya lebih tinggi dari area sekitarnya, dikelilingi pagar dan dinaikkan elevasinya sekitar 50 cm.
Di dalamnya, terdapat satu jirat berundak tiga dengan empat nisan berbentuk gada—ciri khas makam bangsawan. Belum dapat dipastikan apakah jirat tersebut diperuntukkan bagi satu atau dua individu, dan penelitian lebih lanjut masih diperlukan.
Salah satu nisan di kompleks ini terbuat dari batu granit pipih dan dihiasi kaligrafi yang belum sepenuhnya terbaca. Berdasarkan bentuk dan bahan nisan, serta dugaan isi kaligrafi, makam tersebut diperkirakan milik N.A. Fatimah, yang diyakini sebagai putri Depati Saleh atau istri dari K.A. Endek. Keduanya merupakan tokoh bangsawan yang memiliki ikatan darah atau perkawinan dengan keluarga kerajaan.
Di sisi selatan pemakaman, terdapat satu kelompok makam yang juga ditinggikan elevasinya dan dilindungi pagar besi.
Di dalam kompleks ini tumbuh pohon besar yang menaungi beberapa nisan. Salah satu jirat berbahan semen memiliki nisan pipih, sementara nisan di sebelah timurnya berbentuk gada dan terbuat dari batu granit.
Berdasarkan ciri-ciri tersebut, makam ini diduga kuat merupakan bagian dari keluarga bangsawan atau keturunan raja.
Meski dulunya diperuntukkan bagi kalangan bangsawan, Pemakaman Satya Mulya kini telah beralih fungsi menjadi pemakaman umum.
Masyarakat dari berbagai latar belakang kini dapat dimakamkan di lokasi tersebut, menjadikan situs ini sebagai ruang pertemuan antara sejarah dan kehidupan warga sehari-hari.












