Media Daulat Rakyat

  • Home
  • Daerah
  • Harga Sawit Babel Anjlok, Petani Menjerit Tiga Hari Berturut-turut
InShot 20260522

Harga Sawit Babel Anjlok, Petani Menjerit Tiga Hari Berturut-turut

Intisari Berita

  • Harga TBS sawit di Babel jatuh dari Rp3.080/kg ke Rp2.250/kg dalam 3 hari.
  • Kebijakan ekspor CPO satu pintu melalui BUMN memicu ketidakpastian pasar.
  • Petani makin tertekan karena biaya produksi tinggi dan pembayaran tidak langsung.
  • Organisasi petani dan DPRD mendesak transparansi harga serta perlindungan bagi petani kecil.

Bangka Belitung – Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Bangka Belitung terjun bebas dalam tiga hari terakhir. Dari semula Rp3.080 per kilogram, kini hanya Rp2.250 per kilogram di tingkat pabrik. Sementara di tingkat petani yang menjual ke tengkulak, harga lebih rendah lagi, sekitar Rp1.750 per kilogram. Kondisi ini membuat petani menjerit karena pendapatan anjlok drastis.

Penurunan Harga Drastis

  • Hari pertama: Harga masih bertahan di Rp3.080/kg.
  • Hari kedua: Turun ke Rp2.700/kg.
  • Hari ketiga: Jatuh ke Rp2.250/kg di pabrik, sementara tengkulak membeli Rp1.750/kg.

Penurunan ini terjadi serentak di sejumlah daerah penghasil sawit, termasuk Sumatera Selatan, Riau, Jambi, dan Kalimantan Tengah.

Penyebab Utama
Kebijakan pemerintah yang menetapkan ekspor crude palm oil (CPO) melalui satu pintu BUMN, yakni PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), disebut sebagai pemicu utama. Mekanisme baru ini menimbulkan ketidakpastian pasar dan menekan harga rata-rata hingga Rp1.000/kg.

Selain itu, biaya produksi terus meningkat. Pupuk urea kini mencapai Rp650 ribu per karung, sementara racun rumput naik dari Rp40 ribu menjadi Rp50 ribu per liter.

Dampak ke Petani
Petani sawit semakin terhimpit. Harga jual jauh di bawah biaya produksi, sementara sistem pembayaran dari tengkulak tidak langsung lunas. Petani hanya menerima 70 persen setelah bongkar di pabrik, sisanya baru dibayarkan kemudian.

Menjelang Iduladha, keresahan semakin besar. Petani berharap harga segera pulih dalam dua minggu agar kebutuhan lebaran tidak terganggu.

Respons Organisasi dan Pemerintah

  • Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS): Menilai kebijakan ekspor tunggal berisiko monopsoni, menurunkan daya tawar petani, dan membuat harga tidak transparan.
  • POPSI (Perhimpunan Organisasi Petani Sawit Indonesia): Menyebut ketidakpastian memicu kepanikan pasar dan menekan harga CPO serta TBS.
  • DPRD Babel: Memberi peringatan tegas kepada perusahaan sawit agar harga beli di pabrik minimal Rp3.000/kg. DPRD juga berencana memanggil direksi perusahaan untuk evaluasi.

Artikel Terkait

InShot 20260522

PSI Siap Sambut Jokowi dalam…

Intisari Berita Solo, 20 Mei 2026…

InShot 20260522

PSI Nilai Putusan MK Pertegas…

Jakarta – Sekjen Partai Solidaritas Indonesia…

InShot 20260522

Tambang Timah Ilegal di HLP…

BELITUNG – Aktivitas tambang timah ilegal…