Intisari Berita
- Rupiah melemah hingga Rp 17.500 per dolar AS, namun pemerintah menegaskan kondisi ekonomi Indonesia masih aman. Fokus utama saat ini adalah menjaga stabilitas pasar obligasi dan kepercayaan investor agar pelemahan tidak berlanjut menjadi krisis.
Jakarta, – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah tajam hingga menembus level psikologis Rp 17.500 per dolar AS pada pekan kedua Mei 2026. Angka ini menjadi pelemahan terdalam sepanjang sejarah.
Meski demikian, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan masyarakat tidak perlu panik. Menurutnya, fundamental ekonomi Indonesia masih kuat dan jauh berbeda dari kondisi krisis 1998.
Kondisi Rupiah
- Pada 12 Mei 2026, rupiah sempat menyentuh Rp 17.521 per dolar AS.
- Pelemahan dipicu oleh tekanan eksternal, terutama kebijakan suku bunga tinggi di AS, ketidakpastian geopolitik, serta arus keluar modal asing dari pasar domestik.
- Level Rp 17.500 disebut sebagai titik psikologis yang menimbulkan kekhawatiran di pasar.
Pernyataan Menteri Keuangan
Purbaya menekankan bahwa pelemahan rupiah tidak akan berujung pada krisis multidimensi seperti 1998.
“Fondasi ekonomi kita bagus. Kita tahu kelemahannya di mana dan bisa kita betulin. Kita enggak akan sejelek seperti 98 lagi,” ujarnya.
Ia menambahkan, APBN 2026 sudah memperhitungkan asumsi kurs di atas Rp 16.500 per dolar AS, sehingga pelemahan masih dalam batas yang bisa ditangani. Stabilitas nilai tukar tetap menjadi kewenangan Bank Indonesia sebagai otoritas moneter.
Langkah Stabilisasi
Pemerintah bersama Bank Indonesia menyiapkan sejumlah strategi untuk menjaga kepercayaan pasar:
- Bond Stabilization Fund (BSF): Dana khusus untuk menahan lonjakan yield Surat Berharga Negara (SBN).
- Rapat darurat Kemenkeu: Purbaya menggelar rapat mendadak dengan jajaran pejabat untuk merumuskan langkah stabilisasi.
- Koordinasi fiskal-moneter: Pemerintah memperkuat pasar keuangan domestik agar arus modal asing tidak terus keluar.
Perbandingan dengan Krisis 1998
| Faktor | 1998 | 2026 |
|---|---|---|
| Nilai tukar | Rp 16.000–17.000/USD | Rp 17.500/USD |
| Fundamental ekonomi | Lemah, utang swasta tinggi, perbankan rapuh | Lebih kuat, APBN terjaga, perbankan stabil |
| Respon pemerintah | Terbatas, koordinasi lemah | Instrumen fiskal & moneter lebih siap |
| Dampak sosial | Krisis multidimensi, PHK massal, inflasi tinggi | Pemerintah klaim tidak separah 1998 |












