
KAMPUNG KAMI: CATATAN TERBURUK
Janji politik yang tak terealisasi,
menggantung di tiang seperti spanduk lusuh.
Dibaca tiap hari, dipercaya sekali,
lalu dilupakan selamanya.
Ekonomi suram.
Langit mendung bukan karena hujan,
tapi karena dompet kosong.
Masyarakat mengeluh:
“Susahnya mencari sesuap nasi. Karena tidak ada lapangan pekerjaan.”
Yang ada hanya antrean panjang
dan loker yang selalu “sudah terisi”.
Menambang timah… kena razia aparat.
“Ilegal,” katanya.
Padahal yang legal malah yang mengeruk sampai habis.
Bertani… tiada lahan.
Yang sudah dikuasai cukong.
Bibit beli, pupuk mahal,
panen cuma cukup buat bayar utang.
Menjadi nelayan… perahu rusak.
Layar sobek, mesin batuk.
Bantuan perbaikan?
Hanyalah angin kampanye.
Berdagang… sepi pembeli.
Duduk dari pagi sampai magrib,
dagangan tak laku,
karena semua juga lagi menahan lapar.
Ini kampung kami.
Catatan terburuk sepanjang sejarah.
Tempat janji diproduksi masal,
tapi harapan diputus satu-satu.
Di sini,
yang bertahan bukan yang kuat.
Tapi yang masih mau percaya
bahwa besok… mungkin
tidak sekelam hari ini.
Jakarta 12 Juli 2026
Akhlanudin












