
SPANDUK YANG LUSUH
Aku pernah percaya
janji-janji di spanduk itu.
Huruf besar, warna cerah,
dipasang di tiap tiang desa.
Aku yakin desa ku akan sejahtera.
Katanya begitu.
Ada bantuan modal usaha.
Ada pelatihan. Ada harapan.
Kami tepuk tangan.
Kami pilih.
Kami tunggu.
Tapi bantuan modal usaha
yang dulu dijanjikan
tak pernah direalisasikan.
Yang datang cuma foto.
Yang tinggal cuma spanduk
yang kini pudar dimakan hujan.
Sekarang aku duduk di warung ini.
Pesan kopi.
Tanpa gula.
Pahit.
Sepahit kehidupan yang kami alami.
Sepahit menunggu janji
yang tak pernah mampir ke desa.
Spanduknya sudah turun.
Orangnya sudah lupa.
Tinggal kami.
Dengan kopi pahit
dan mimpi yang masih dicicil dengan keringat.
Jakarta 13 Juli 2026
Akhlanudin












