
API DI SELINSING
Curhat Ahman dan Ribuan Penambang Beltim
Aku Ahman!
59 tahun!
Punggung ini retak karena cangkul
Tangan ini kapalan karena timah
Tapi hari ini aku berdiri di sini
Bukan untuk mengemis
Aku berdiri karena sudah muak!
Muak melihat keringat kami ditimbang murah
Muak melihat anak-anak kami makan nasi dengan utang
Muak melihat janji Rp170 ribu sekilo
Hanya jadi angin di mulut pejabat!
Mereka bilang “dana habis”
Lalu kemana perginya hasil bumi kami?
Kemana perginya timah yang kami gali dengan darah?
Di Bangka saudara kami masih bisa hidup
Di Belitung kami disuruh mati pelan-pelan!
Bukan kami yang mulai api!
Api itu sudah lama menyala di perut kami
Api lapar!
Api marah!
Api karena diperlakukan seperti sampah di tanah sendiri!
Kami datang bukan karena dibayar!
Kami datang karena panggilan jiwa!
Karena jika bukan kami yang teriak hari ini
Siapa lagi yang akan mendengar jerit penambang Langkang?
Siapa lagi yang akan membela anak istri di Selinsing?
Lihat! Kantor itu terbakar!
Bukan karena kami benci negara
Tapi karena negara lupa pada kami!
Bukan karena kami ingin rusak
Tapi karena hati kami sudah terlalu lama dirusak!
Kami bukan penjahat!
Kami pencari nafkah!
Kami gali tanah, bukan untuk kaya
Kami gali tanah, agar beras tidak perlu diutang lagi!
Agar anak bisa sekolah!
Agar harga diri kami tidak diinjak-injak!
Hai penguasa! Hai PT Timah!
Dengar ini baik-baik:
Timah di bawah tanah itu milik rakyat!
Keringat di tubuh kami itu milik keluarga!
Jangan kalian atur seenaknya lalu bilang “tata niaga”
Sementara kami tercekik di tata yang tidak adil!
Jika dialog yang kalian mau, duduklah!
Tapi jangan ajak kami duduk di meja kosong
Sementara perut kami kosong!
Jika hukum yang kalian bawa, tegakkanlah!
Tapi tegakkan juga keadilan untuk penambang rakyat!
Hari ini asap mengepul di Gantung
Hari ini kaca pecah di Lenggang
Itu bukan kerusuhan
Itu suara kami yang sudah terlalu lama dibungkam!
Ingat Ahman!
Ingat ribuan nama di balik cangkul!
Kami tidak minta banyak
Kami hanya minta:
BELI TIMAH KAMI DENGAN HARGA LAYAK!
JANGAN BIARKAN KAMI UTANG BERAS DI TANAH YANG KAYA TIMAH!
Jika besok kalian masih tutup mata
Maka api ini tidak akan padam
Karena selama perut masih lapar
Selama harga masih murah
Selama keadilan masih dijual
Maka Selinsing akan terus menyala!
HIDUP PENAMBANG RAKYAT!
HIDUP KEADILAN!
8 Agustus 2026
Akhlanudin
Pojok Warkop













