MEDIA DAULAT RAKYAT MANGGAR, 30 Agustus 2026 – Aksi 46 siswa SDN 19 Manggar membawa miniatur ponton Tambang Inkonvensional /TI/ rajuk dalam Pawai HUT ke-81 RI menjadi sorotan. Aksi yang berlangsung di Kecamatan Manggar, Belitung Timur, ini viral di media sosial dan membawa pesan kritis tentang kelestarian lingkungan di Pantai Lalang.
Kegiatan ini diliput media lokal Pos Belitung dan ramai dibagikan di TikTok dengan pesan utama: “Wariskan Kami Mata Air, Bukan Air Mata”.
Fakta Aksi di Lapangan
Pawai berlangsung pada Sabtu, 29 Agustus 2026.
Peserta aksi adalah 46 siswa SDN 19 Manggar dari kelas 3–6 yang didampingi orang tua. Mereka membawa miniatur ponton TI rajuk lengkap dengan replika mesin penyedot timah.
Yang menarik, seluruh miniatur dibuat swadaya oleh siswa dan guru menggunakan material alami seperti kulit kayu gelam dan lumut.
Saat melintas, para siswa juga membentangkan spanduk bertuliskan “Wariskan Kami Mata Air, Bukan Air Mata”.
Koordinator pawai, Herwandiansyah atau Iwan, menjelaskan tujuan aksi tersebut.
“Tema yang diangkat itu kita lihat di sekitar kita, khususnya Pantai Lalang itu kan sudah mulai ditambang. Maksud kami bukan mengada-ada, tapi mengajak penambang untuk mulai berubah pola pikir. Dari hanya menambang dan merusak, yuk kita sama-sama reboisasi kembali dan membuat lahan produktif,” ujarnya.
Latar Belakang: Sorotan ke Pantai Lalang
Pantai Lalang saat ini menjadi perhatian karena maraknya aktivitas tambang ponton rajuk yang dinilai merusak pesisir.
Pihak sekolah menegaskan aksi ini tidak bermaksud mendiskreditkan para penambang. Tujuannya murni edukatif, untuk membuka ruang dialog agar ada perubahan ke arah pemanfaatan lahan yang lebih produktif dan berkelanjutan.
Dampak dan Reaksi Publik
Kekuatan aksi ini terletak pada simbol yang sederhana namun mengena. Keterlibatan anak-anak membuat pesan lingkungan lebih menyentuh publik.
Video pawai tersebut viral di TikTok dan YouTube, sehingga jangkauan pesannya meluas hingga ke luar Belitung Timur.
Meski begitu, ada potensi aksi ini ditafsirkan sebagai kritik tajam terhadap aktivitas tambang. Namun pihak sekolah berharap publik melihatnya sebagai ajakan, bukan penolakan.
Aksi SDN 19 Manggar menjadi pengingat bahwa isu lingkungan bisa disampaikan siapa saja, termasuk oleh anak-anak, dengan cara kreatif dan damai.












