Media Daulat Rakyat

  • Home
  • Daerah
  • Krisis Pendidikan di Beltim: Tambang Timah hingga Perceraian Picu Sepinya Kelas, Murid Lebih Pilih Nambang Daripada Sekolah
InShot 20260919

Krisis Pendidikan di Beltim: Tambang Timah hingga Perceraian Picu Sepinya Kelas, Murid Lebih Pilih Nambang Daripada Sekolah

MEDIA DAULAT RAKYAT BELITUNG TIMUR, 19 September 2026 – Fenomena kekurangan murid yang dialami sejumlah sekolah di Kabupaten Belitung Timur (Beltim) kian mengkhawatirkan. Penurunan jumlah siswa ini dipicu oleh kombinasi kompleks antara faktor ekonomi, kondisi sosial, hingga perubahan demografis lokal. Bahkan di beberapa SD seperti SDN 23 Manggar, jumlah murid kelas satu hanya tersisa 3 orang.

Dinas Pendidikan Beltim menyebut kondisi ini sebagai krisis pendidikan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan menambah ruang kelas.

4 Faktor Utama Penyebab Kelas Sepi di Beltim

Terdapat empat faktor utama yang menyebabkan sepinya ruang kelas di wilayah tersebut:

1. Maraknya Aktivitas Tambang Timah
Bagi anak-anak di daerah penghasil timah ini, godaan untuk mencari penghasilan sendiri sangat tinggi. Dengan membawa dulang dan sekop, seorang anak usia SMP bisa mendapat Rp 150 ribu hingga Rp 300 ribu per hari. Keberhasilan mendapatkan uang instan dari menambang mengikis motivasi mereka untuk memprioritaskan pendidikan yang hasilnya baru terasa bertahun-tahun kemudian.

2. Tingginya Angka Putus Sekolah
Setiap tahunnya, ratusan pelajar tingkat SMP hingga SMA/SMK di Beltim memilih berhenti di tengah jalan. Selain keterbatasan ekonomi dan tuntutan membantu orang tua bekerja di kebun lada atau tambang, masalah pergaulan lingkungan serta pernikahan usia muda menjadi kendala utama. Data Disdik mencatat, angka putus sekolah di jenjang SMP mencapai 2,1% pada tahun 2025.

3. Penurunan Jumlah Anak Usia Sekolah
Tren penurunan pendaftaran siswa baru terjadi secara alami dalam beberapa tahun terakhir. Di daerah tertentu seperti Kecamatan Kelapa Kampit dan Damar, populasi anak usia sekolah memang berkurang drastis akibat program KB dan urbanisasi keluarga muda ke Manggar dan Tanjungpandan. Akibatnya, kuota ruang kelas sulit terpenuhi.

4. Krisis Keharmonisan Keluarga
Isu sosial seperti perceraian akibat tekanan ekonomi berdampak langsung pada minimnya pengawasan orang tua. Pengadilan Agama Manggar mencatat angka perceraian di Beltim naik 11% pada 2025. Pendidikan anak kerap terabaikan hingga mereka gagal mendaftar atau drop out karena harus ikut salah satu orang tua yang merantau.

Krisis Guru ASN Perparah Kondisi

Masalah ini kian memprihatinkan karena terjadi bersamaan dengan krisis kekurangan guru Aparatur Sipil Negara (ASN). Di Beltim, satu guru SD negeri harus mengajar dua kelas sekaligus (kelas rangkap) karena kekurangan 287 guru SD.

Guru honorer yang ada pun banyak yang beralih profesi menjadi penambang atau pekerja sawit karena gaji yang tidak menentu.

Menanggapi kondisi tersebut, opsi penggabungan (merger) sekolah dinilai sebagai langkah paling rasional agar daya tampung, fasilitas, dan tenaga pendidik yang ada dapat dioptimalkan.

Kepala Dinas Pendidikan Beltim sebelumnya mengatakan 8 SD dengan murid di bawah 50 orang akan di-regrouping ke SD induk terdekat. Kebijakan ini diambil setelah kajian 3 tahun agar jarak sekolah baru tidak lebih dari 2 kilometer dari rumah siswa.

“Daripada memaksakan sekolah dengan 3 murid dan 1 guru honorer, lebih baik kita gabung. Anak dapat teman belajar yang cukup, guru ASN-nya juga cukup,” ujarnya.

Regrouping diharapkan bisa menyelamatkan kualitas pendidikan Beltim di tengah gempuran tambang timah dan persoalan sosial keluarga.

Artikel Terkait

InShot 20260919

Pemutihan Pajak Kendaraan Babel Berakhir…

MEDIA DAULAT RAKYAT PANGKALPINANG, 19 September…

InShot 20260919

Prabowo: SD, SMP, SMA Hingga…

MEDIA DAULAT RAKYAT JAKARTA, 19 September…

InShot 20260919

Atasi Antrean Pertalite Mengular, Belitung…

MEDIA DAULAT RAKYAT TANJUNGPANDAN, 19 September…