
Oleh : Akhlanudin
Pulau Belitung menyimpan beragam kisah legenda yang masih diyakini masyarakat hingga kini. Salah satunya adalah Keramat Bujang, yang berpusat di Bukit Bujang, Desa Bantan, Kecamatan Membalong. Legenda ini mengisahkan tokoh sakti Tu’ Rangga Tuban dan anak angkatnya, Bujang, yang keduanya dipercaya memiliki kesaktian luar biasa.
Makam Tu’ Rangga Tuban dan isterinya berada di kawasan Ai’ Membiding, sedangkan makam Bujang, dikenal sebagai Keramat Bujang, terletak di bukit yang sama. Kedua makam ini menjadi pusat spiritual dan ziarah masyarakat setempat.
Tu’ Rangga Tuban dikenal sebagai pendekar dari Tanah Jawa. Ia kerap mengenakan batu asah di lengan kirinya setiap kali hendak menghadapi musuh yang datang dari arah sungai Ai’ Sapai.
Batu ini masih diyakini memiliki kekuatan mistis; setiap parang yang diasah di lokasi tersebut memang menjadi tajam, namun konon dapat menyebabkan luka bagi pemiliknya.
Selain ahli bela diri, Rangga Tuban juga piawai membuat perahu, yang meninggalkan jejak toponimi bernama Lemong Perahu. Salah satu kisah menarik adalah saat ia membeli burung puyuh dari Palembang.
Ketika burung itu lepas, ia menyusun batu-batu besar sebagai penghalang. Hingga kini, warga percaya bahwa mengencingi batu tersebut dapat membawa penyakit.
Namun, legenda berubah arah saat Bujang, anak angkatnya, menunjukkan kemampuan bela diri yang bahkan melampaui Tu’ Rangga Tuban. Ketakutan dan iri hati menyelimuti sang ayah, yang kemudian merancang siasat untuk membunuh Bujang.
Dalam keadaan lemah karena kelaparan, Bujang dibawa ke pondok dan dibakar hidup-hidup. Namun, secara ajaib, ia selamat dari kobaran api.
Merasa sudah mengetahui niat jahat ayahnya, Bujang pun mengungkap rahasia kelemahannya—ia hanya bisa mati jika ujung daun lalang ditusukkan ke jari manisnya. Setelah permintaan dikabulkan, ia meminta dikubur “di antara langit dan bumi” bersama harta yang tersimpan dalam tajau.
Kini, lokasi pemakamannya dikenal dengan nama Keramat Bujang, tempat yang dianggap sakral oleh masyarakat.
Legenda juga mencatat upaya dua orang pria yang bertapa untuk memperoleh harta Bujang yang dikuburkan dalam tempayan di sisi kirinya.
Setelah berhasil mengelabui roh Bujang dengan darah palsu dari pati samak, mereka sempat menemukan tempayan tersebut. Namun, karena ucapan sombong, tempayan itu kembali menggelinding ke bukit dan hilang, sementara tanah menutup lubang galian secara mistis.
Hingga hari ini, tak seorang pun berani mencoba mengambil harta tersebut. Keramat Bujang tetap menjadi simbol spiritual dan pelajaran tentang kesetiaan, kesaktian, dan harga diri yang hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Belitung.
- Akhlanudin Ketua Dewan Kesenian Belitung 2014-2018












