
Oleh : Akhlsnudin
Suku Sawang, yang juga dikenal sebagai Orang Laut atau Ameng Sewang di Belitung, merupakan komunitas adat yang hidup berpindah-pindah di kawasan pesisir dan perairan sekitar Pulau Bangka dan Pulau Belitung.
Mereka termasuk dalam rumpun masyarakat bahari Nusantara, sejajar dengan suku Bajau, Samal, dan Bajo
Di Bangka, mereka menetap di wilayah Lepar Pongok dan Pangkalan Baru.
Di Belitung, mereka tersebar di Membalong dan daerah pesisir lainnya
Bahasa dan Identitas Budaya
Bahasa utama mereka adalah Bahasa Sekak, bagian dari rumpun Melayu,
Namun memiliki dialek yang unik dan cepat, sering terdengar seperti gumaman. Bahasa ini menjadi penanda identitas sekaligus penghubung antar komunitas
Gaya Hidup dan Kepercayaan
Suku Sawang dikenal sebagai pengelana laut, hidup di atas perahu atau rumah panggung di tepi pantai. Mereka berpindah sesuai musim dan kondisi laut, membangun sapao (gubuk bertiang) sebagai tempat tinggal sementara
Kepercayaan mereka sangat erat dengan kekuatan laut, yang dianggap sebagai sumber keselamatan dan berkah
Tradisi seperti Muang Jong mencerminkan hubungan spiritual dengan laut dan leluhur
Asal-usul Suku Sawang diyakini berasal dari kelompok Sekak atau Sekana, yang dahulu dikenal sebagai manusia perahu dan bahkan pernah terlibat dalam aktivitas pembajakan di perairan Lingga dan Bangka pada abad ke-19
Mereka sempat dianggap sebagai masyarakat terasing oleh pemerintah Orde Baru, dan mengalami marginalisasi sosia
Upaya pemukiman oleh pemerintah belum sepenuhnya mengubah gaya hidup nomaden mereka. Rumah-rumah yang disediakan sering hanya menjadi tempat singgah musiman
Ciri Fisik dan Persepsi Sosial
Secara fisik, Orang Sawang memiliki ciri khas:
- Kulit lebih gelap dibanding masyarakat Melayu Bangka Belitung.
- Rambut ikal atau keriting, rahang tegas, dan mata tajam.
Penampilan mereka sering dibandingkan dengan suku Aborigin atau Teuton
Sayangnya, stereotip negatif sempat melekat, seperti istilah “seperti orang Sekak” yang digunakan sebagai ejekan. Namun, komunitas ini kini lebih memilih disebut sebagai Orang Sawang, sebagai bentuk reclaiming identitas
Orang Sawang merupakan bagian dari komunitas besar masyarakat Nusantara yang hidup sehari-hari dengan berorientasi ekosistem kelautan, seperti orang Samal, Bajau atau Bajo yang bermukim di berbagai belahan lain Nusantara.
Bahasa yang mereka gunakan memiliki banyak kesamaan dengan bahasa Melayu. Hanya saja, setiap kata dan kalimat dilafalkan lebih cepat, bahkan terkadang seperti gumaman, sehingga sulit dipahami.
Orang Sawang biasanya hidup berkelompok dalam satuan-satuan kecil, terdiri atas beberapa keluarga inti, dan menetap sementara di suatu tempat dalam jangka waktu tertentu dengan mendirikan gubuk-gubuk bertiang yang disebut sapao.
Walaupun pemerintah sudah berupaya memukimkam mereka, kebiasaan hidup berpindah dan mengembara ke tempat lain sulit dihilangkan.
Mereka biasanya akan pindah di kawasan perairan Pulau Bangka dan Belitung, paling jauh ke pesisir pantai Kalimantan Barat.
Rumah-rumah yang disediakan pemerintah sebutlah seperti permukiman orang Sawang di pinggiran Dusun Kumbung di Pulau Lepar, Bangka Selatan tak ubahnya tempat singgah di sela-sela musim pengelanaan.
- Akhlanudin Ketua Dewan Kesenian Belitung 2014 – ,2018












