
Belitung, 2025 — Dari jalanan tanah Desa Mengkubang hingga kursi bupati dua periode, Sahani Saleh—yang akrab disapa Sanem—menjadi simbol perjuangan dan kedekatan dengan akar budaya lokal. Sosoknya dikenal luas bukan hanya karena jabatan, tetapi karena gaya kepemimpinan yang merakyat, penuh humor, dan tak pernah melupakan asal-usulnya sebagai Urang Mengkubang.
Dari Buruh Bangunan ke Pemimpin Daerah
Sanem lahir pada 7 November 1958 di Burung Mandi, Kecamatan Damar, Belitung Timur. Masa kecilnya diwarnai perjuangan: bersekolah tanpa alas kaki, berjalan kaki sejauh 3–4 kilometer setiap hari, dan membantu orang tua sebagai buruh bangunan dan nelayan.
“Saya dulu jual ikan hasil pancingan sepulang sekolah. Kadang dapat, kadang tidak. Tapi itu yang membentuk saya,” kenang Sanem dalam sebuah wawancara lokal.
Pendidikan formalnya dimulai di SD Negeri Mengkubang, berlanjut ke SMP Budi Utomo dan SMP Muda Karya Manggar, lalu STM Tanjungpandan.
Ia kemudian melanjutkan ke Akademi Pembangunan Masyarakat Desa (APMD) Yogyakarta, memperkuat fondasi akademiknya di bidang pembangunan masyarakat.
Dua Periode Kepemimpinan
Sanem menjabat sebagai Bupati Belitung selama dua periode:
- 2013–2018
- 2018–2023
Di masa kepemimpinannya, ia dikenal sebagai figur yang dekat dengan masyarakat, sering turun langsung ke desa-desa, dan tak segan bercanda dengan warga. Ia juga aktif mendorong promosi pariwisata Belitung, penguatan infrastruktur, dan peningkatan layanan publik.
Pada tahun 2022, Sanem menerima Anugerah Humas Indonesia (AHI) sebagai salah satu bupati terpopuler di media digital. Penghargaan ini mencerminkan keberhasilannya membangun citra kepemimpinan yang komunikatif dan transparan.
Kembali ke Akar
Setelah masa jabatannya berakhir pada 31 Desember 2023, Sanem memilih untuk tidak melanjutkan karier politik. Ia kembali ke kehidupan sederhana sebagai petani dan nelayan, menyebut dua “bank” yang kini menjadi tempatnya beraktivitas: bank kebun dan bank laut.
“Saya sudah cukup. Sekarang waktunya kembali ke Mengkubang, ke kebun dan laut. Itu tempat saya belajar hidup,” ujarnya dalam pidato perpisahan.
Simbol Identitas Lokal
Sebutan “Urang Mengkubang” bukan sekadar penanda geografis, melainkan identitas kultural yang melekat kuat pada Sanem. Ia menjadikan asal-usulnya sebagai kekuatan moral dan simbol kedekatan dengan masyarakat akar rumput.
Dalam lanskap politik lokal yang sering diwarnai elitisme, Sanem tampil sebagai pengecualian: pemimpin yang tak pernah lupa jalan pulang.












