
Jakarta – Kutang Suroso merupakan jenis pakaian dalam perempuan yang berkembang di Indonesia pada pertengahan abad ke-20, khususnya di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah.
Produk ini lahir dari keprihatinan sosial terhadap kondisi perempuan pribumi yang bekerja tanpa penutup dada pada masa kolonial.
Fenomena ini tidak hanya menimbulkan ketidaknyamanan, tetapi juga membuka ruang bagi pelecehan dan stigma sosial.
Menurut arsip budaya lokal dan wawancara dengan sejarawan busana Jawa, istilah “kutang” mulai digunakan secara luas pada awal abad ke-20, meskipun bentuk dan fungsinya telah mengalami evolusi sejak masa pra-kemerdekaan
Kutang Suroso merujuk pada desain pakaian dalam yang dikembangkan oleh seorang pengrajin bernama Suroso pada era 1960-an. Berbasis di Juwiring, Klaten,
Suroso merancang kutang dengan pendekatan fungsional dan estetis. Desainnya berbentuk tabung dengan kancing di bagian depan, memudahkan pemakaian terutama bagi perempuan lansia.
Dalam wawancara dengan keluarga Suroso dan pengrajin lokal, diketahui bahwa kutang ini diproduksi secara manual menggunakan mesin jahit pedal dan bahan katun lokal. Produksi sempat mencapai puncaknya pada tahun 1970-an, sebelum tergeser oleh bra modern yang lebih tipis dan elastis.
Desain, Fungsi, dan Estetika
Ciri khas Kutang Suroso:
- Model tabung: tanpa kawat, tanpa busa, cocok untuk kenyamanan harian.
- Kancing depan: memudahkan pemakaian bagi lansia atau ibu menyusui.
- Potongan dada rendah: memberi ruang gerak dan sirkulasi udara.
- Bagian bawah panjang: menutupi sebagian perut, memberi kesan sopan.
Menurut Fitri Astuti, peneliti tekstil tradisional dari Universitas Negeri Yogyakarta, kutang ini mencerminkan nilai-nilai kesopanan dan keanggunan perempuan Jawa, sekaligus menjadi simbol transisi antara tradisi dan modernitas.
Meski kini tidak lagi digunakan secara luas, Kutang Suroso tetap dikenang sebagai bagian dari sejarah busana perempuan Indonesia. Beberapa komunitas seni dan pelestari budaya masih menggunakan kutang ini dalam pertunjukan tari klasik atau film berlatar sejarah.
Di pasar daring, kutang dengan desain serupa masih dijual sebagai produk nostalgia atau kebutuhan khusus lansia. Di Klaten, beberapa penjahit tua masih menyimpan pola asli Kutang Suroso sebagai warisan keterampilan tangan
Kutang Suroso bukan sekadar pakaian dalam, melainkan artefak budaya yang merekam dinamika sosial, estetika, dan identitas perempuan Indonesia. Ia menjadi bukti bahwa busana, sekecil apapun bentuknya, dapat memuat narasi besar tentang perlindungan, martabat, dan inovasi lokal.












