
Tanjungpandan Belitung, — Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung bersama PT Perkebunan Kelapa Indonesia tengah menggulirkan sebuah inisiatif besar: transformasi lahan tidak produktif menjadi kebun kelapa unggul berskala industri. Dengan target investasi mencapai 18.000 hektar dan pembangunan dua pabrik pengolahan, program ini digadang-gadang sebagai langkah strategis untuk meningkatkan pendapatan petani, memperkuat ketahanan ekonomi daerah, dan membuka peluang ekspor produk kelapa ke pasar global.
Gubernur Bangka Belitung, Hidayat Arsani, menegaskan bahwa bibit yang digunakan dalam program ini bukan sembarangan. “Kita siapkan 1.400 pohon bibit kelapa unggul. Satu butir kelapa bisa mencapai 1,5 sampai 2 kilogram setelah dibersihkan, airnya satu liter, dan daging kelapanya bisa sampai satu kilo,” ujarnya dalam konferensi pers di Tanjungpandan Belitung (12/8/2025,,)
Kelapa kecil tidak menjadi prioritas. Fokus utama adalah kelapa besar yang memiliki nilai jual tinggi dan potensi olahan yang luas. Tim teknis dari pemerintah daerah akan turun langsung ke lapangan untuk mengecek pH tanah dan memastikan lokasi yang paling cocok untuk penanaman.
PT Perkebunan Kelapa Indonesia akan menggelontorkan investasi bertahap hingga 18.000 hektar, dimulai dari 10.000 hektar pertama. Dua pabrik pengolahan kelapa akan dibangun: satu di Pulau Bangka dan satu di Pulau Belitung.
Gubernur Hidayat menjelaskan bahwa masyarakat akan dilibatkan secara aktif. “Satu hektar bisa menghasilkan Rp13,5 juta per bulan. Petani hanya perlu menyerahkan lahan kepada PT Mitra, dan dalam lima tahun akan mulai panen. Sertifikat tetap milik petani,” jelasnya.
Program ini juga membuka peluang kerja bagi puluhan ribu orang, termasuk lulusan SMA, SMK, dan guru.
“Saya yakin hampir 50.000 orang akan terlibat, dan kita akan menyuplai kebutuhan dari luar daerah juga,” tambahnya.
Salah satu terobosan penting dalam program ini adalah dibukanya izin bagi masyarakat untuk menanam kelapa di kawasan Hutan Tanaman Rakyat (HTR), yang sebelumnya hanya diperbolehkan untuk komoditas tertentu seperti sawit.
“Terima kasih kepada Pak Menteri yang telah menyetujui bahwa rakyat boleh bertanam HTR. Ini perubahan besar,” kata Hidayat.
Ia juga mengajak masyarakat, termasuk wartawan, untuk bergabung dalam program ini demi masa depan anak cucu.
“Silakan bentuk kelompok, daftarkan ke kehutanan. Jangan lengah. Ini peluang besar,” tegasnya.
Wardinam, perwakilan dari PT Perkebunan Kelapa Indonesia, menegaskan bahwa proyek ini bukan lagi tahap eksperimen.
“Kita bukan uji coba lagi. Bibit kita adalah bibit super. Kita tanam langsung, harus menghasilkan. Tidak ada coba-coba,” ujarnya.
Penanaman akan dimulai saat musim hujan, sekitar Oktober hingga Desember. Target awal adalah 1.000 hektar di lokasi HTM (Hutan Tanaman Masyarakat). Tim perusahaan akan melakukan survei lokasi sebelum penanaman dimulai.
Menurut ,Wardinam Bangka Belitung memiliki potensi luar biasa untuk kelapa, terutama di ketinggian sekitar 35 meter di atas permukaan laut (mdpl). “Kelapa di kepulauan ini hasilnya luar biasa. Kita optimis,” katanya.
Setelah tiga tahun, saat kelapa mulai berproduksi normal, pabrik akan segera dibangun. Kelapa lokal juga akan ditampung agar tidak ada yang terbuang.
“Harga beli kelapa saat ini Rp5.600–Rp5.700 per kilogram. Kita tampung semua,” jelas Wardiman.
Produk olahan kelapa akan mencakup santan, minyak kelapa, pakan ternak, dan karbon dari batok kelapa. “Santan kita ekspor, airnya kita olah, minyaknya untuk pasar lokal dan ekspor, batoknya kita bakar untuk karbon ekspor ke Eropa,” tambahnya.
Program ini berpotensi mengubah wajah ekonomi Bangka Belitung. Dengan keterlibatan masyarakat, dukungan pemerintah, dan investasi industri, kelapa bisa menjadi komoditas unggulan baru yang berkelanjutan.
Namun, tantangan tetap ada: survei lokasi, kesiapan lahan, dan edukasi masyarakat. Gubernur Hidayat menekankan pentingnya partisipasi aktif dan komunikasi terbuka. “Saya minta masukan dan pertanyaan dari masyarakat. Kita harus kerja sama,” tutupnya.












