Media Daulat Rakyat

  • Home
  • Nasional
  • Seragam Sekolah yang Tak Terjangkau: Air Mata Seorang Ayah di Boyolali
Inshot 20250816 134527040

Seragam Sekolah yang Tak Terjangkau: Air Mata Seorang Ayah di Boyolali

Inshot 20250816 134527040

Boyolali, — Mata Heru Waskito berkaca-kaca saat ditemui wartawan di halaman SMP Negeri 2 Teras, Jumat (15/8/2025). Ia merasa gagal sebagai ayah, setelah tak mampu membelikan seragam olahraga untuk anak ketiganya yang duduk di bangku SMP.

“Barang itu sederhana bagi orang lain, tapi mewah bagi saya,” ucap Heru lirih.

Heru menceritakan bahwa pada Kamis (14/8/2025), putrinya pulang dari sekolah sambil menangis. Ia menjadi satu-satunya siswa di kelas yang belum menerima seragam sekolah.

Namun yang paling menyakitkan, menurut Heru, adalah ucapan sang guru yang disampaikan di depan kelas.

“Gurunya bilang, ‘La koe rung bayar kok. Yo ra entuk.’ (Kamu belum bayar, ya belum dapat),” kata Heru, menirukan cerita anaknya.

Kalimat itu menghujam hati sang anak, membuatnya malu dan enggan kembali ke sekolah.

Heru mengakui belum melunasi biaya seragam sekolah yang totalnya mencapai Rp841 ribu. Sebagai tukang ojek pangkalan, penghasilannya tak menentu. Ia kerap pulang tanpa membawa uang sepeser pun, sementara harus menghidupi istri dan empat anak.

“Saya jual TV, laku Rp450 ribu. Uangnya langsung saya bayarkan ke sekolah. Sisanya masih kurang Rp391 ribu,” jelas Heru.

Dengan uang itu, anaknya baru menerima seragam kotak-kotak, batik, dan atribut sekolah.

Heru mengaku telah memohon kebijakan agar seragam olahraga bisa diberikan dulu, dengan janji akan melunasi kekurangannya saat dana Program Indonesia Pintar (PIP) cair. Namun permohonannya ditolak.

“Saya sudah janji tidak akan lari. Anak saya masih tiga tahun sekolah di sana,” tambahnya.

Heru menyayangkan sikap sekolah yang menurutnya kurang empati terhadap kondisi ekonomi keluarga. Ia khawatir anaknya mengalami tekanan mental akibat perlakuan tersebut.

Sementara itu, Kepala SMPN 2 Teras, Purwanto, mengaku belum mengetahui detail pengadaan seragam siswa.

“Terus terang kami tidak tahu masalah seragam ini. Nanti saya koordinasi dengan guru yang bersangkutan,” ujarnya.

Namun Heru meragukan pernyataan tersebut. “Masa kepala sekolah tidak tahu kalau ada guru yang membagikan seragam di kelas?” katanya.

Kisah Heru Waskito menjadi potret kecil dari tantangan besar yang dihadapi keluarga miskin dalam mengakses pendidikan yang layak. Seragam sekolah, yang seharusnya menjadi simbol kesetaraan, justru menjadi sumber luka dan ketimpangan.

Artikel Terkait

InShot 20260811

Dosen Gizi UMBARA Dr. Lora…

BOGOR, 11 Agustus 2026 – Sivitas…

InShot 20260811

Bambang Pati Jaya: Penanganan Sampah…

MEDIA DAULAT RAKYAT PANGKALPINANG, 11 Agustus…

InShot 20260811

Rapat Paripurna Usulan Pemakzulan Wagub…

MEDIA DAULAT RAKYAT PANGKALPINANG, 11 Agustus…