
Oleh : Akhlanudin
Pada tanggal 30 September 2025, Media Daulat Rakyat memuat sebuah puisi kontemplatif berjudul Tenang karya ESu (Edy Sukardi), yang menggambarkan kegelisahan manusia di tengah hiruk-pikuk dunia modern.
Puisi ini ditulis dengan gaya reflektif dan spiritual, mengajak pembaca untuk merenungi makna ketenangan sejati.
Puisi dibuka dengan suasana keramaian yang riweuh—lalu lalang manusia, silang jalan, dan dorongan untuk berbelanja. “Kata mereka di sini banyak barang bagus dan murah,” tulis ESu, menggambarkan godaan duniawi yang kerap membuat manusia lupa akan keterbatasan diri. Bekal yang sedikit menjadi simbol keterbatasan materi, yang berujung pada rasa penyesalan.
Namun, ESu tidak berhenti pada kritik sosial. Ia mengajak pembaca untuk bertanya: apakah keramaian itu hanya sekadar memenuhi nafsu belanja, atau ada pencarian yang lebih dalam?
Di sinilah puisi mulai bergeser ke arah spiritual, menyoroti bahwa ketenangan bukanlah hasil dari tempat sunyi, melainkan dari pikiran dan hati yang damai.
“Tenang itu ada di pikiran,” tulisnya. Bahkan di tempat sunyi, jika pikiran bergolak, hati tetap gelisah.
Dunia, menurut ESu, selalu menjanjikan hal baru—perlombaan tanpa garis akhir. Maka, ia mengingatkan bahwa ada yang lebih hakiki: damai yang bersumber dari hati yang selalu mengingat Tuhan.
Tema dan Makna
Puisi Tenang menggambarkan kegelisahan manusia di tengah hiruk-pikuk dunia yang penuh godaan materi dan kesibukan. Lewat gambaran suasana pasar yang ramai dan dorongan untuk berbelanja, penyair menyentil fenomena konsumerisme yang sering kali menutupi pencarian hakiki: ketenangan jiwa.
Namun, puisi ini tidak berhenti pada kritik sosial. Ia mengajak pembaca merenung lebih dalam—bahwa ketenangan bukanlah hasil dari tempat yang sunyi atau barang yang dimiliki, melainkan dari pikiran dan hati yang damai. Ketenangan sejati, menurut penyair, hanya bisa dicapai melalui zikir dan penyerahan diri kepada Tuhan.
Gaya Bahasa
- Bahasa lugas dan reflektif: ESu menggunakan diksi sederhana namun penuh makna, membuat puisi ini mudah dicerna namun tetap menyentuh.
- Pertanyaan retoris: “Apakah keramaian itu hanya sekedar memenuhi hasrat nafsu belanja…” mengajak pembaca berpikir kritis.
- Kontras: Antara keramaian dan kesunyian, antara dunia dan hati, antara hasrat dan zikir—semua memperkuat pesan spiritual yang ingin disampaikan.
Struktur dan Irama
Puisi ini terdiri dari bait-bait pendek yang tidak terikat rima, namun memiliki alur yang mengalir dari penggambaran suasana duniawi menuju refleksi spiritual. Struktur ini mencerminkan perjalanan batin manusia: dari riweuh menuju tenang.
Nilai dan Relevansi
Puisi Tenang sangat relevan dengan kehidupan modern yang serba cepat dan penuh distraksi. Ia menjadi pengingat bahwa kebahagiaan dan ketenangan bukanlah hasil dari pencapaian duniawi, melainkan dari hubungan yang intim dengan Sang Pencipta.
Puisi ditutup dengan ajakan yang kuat dan sederhana: “Yuk. Ala bizikrillah tatmainul qulub.” Sebuah seruan untuk kembali kepada zikir, menyebut nama-Nya, dan menyerahkan segala urusan kepada-Nya.
Di sinilah ESu menegaskan bahwa ketenangan sejati bukanlah hasil dari pencapaian duniawi, melainkan dari hubungan yang intim dengan Sang Pencipta.












