Media Daulat Rakyat

Inshot 20251002 070112948

Rumah Tua— Narasi Reflektif atas Puisi ESu

Inshot 20251002 071026654

oleh : Akhlanudin

Di tengah arus modernisasi dan ajakan pindah ke rumah baru yang lebih layak, puisi Rumah Tua karya ESu menyuarakan suara hati seorang ayah yang memilih bertahan.

Rumah tua yang ditinggalinya bukan sekadar bangunan fisik, melainkan ruang hidup yang menyimpan kenangan, spiritualitas, dan nilai sosial yang tak tergantikan.

Ayah menolak pindah bukan karena keras kepala, melainkan karena cinta yang mendalam terhadap rumah yang menjadi saksi perjuangan hidup.

Ia mengenang masa kecil anaknya, kedekatan dengan mushalla, dan peran sebagai imam subuh yang masih dijalaninya. Ia menyebut surah-surah yang dibacanya, menandakan bahwa rumah ini bukan hanya tempat tinggal, tapi juga tempat ibadah dan perenungan.

Kampung tempat rumah itu berdiri digambarkan sebagai ruang yang aman, penuh keguyuban, rukun, dan tradisi rembuk. Tokoh-tokoh lokal seperti Haji Rouf, Haji Matali, Haji Tacing, dan Bang Jali disebut sebagai bagian dari memori kolektif yang memperkuat ikatan sosial.

Bahkan kajian subuh bersama Roro dan Ustadz Saiful Rahim menjadi penanda bahwa rumah tua ini masih hidup secara spiritual dan sosial.

Puisi ini menyentuh karena menyuarakan nilai-nilai yang sering terpinggirkan: akar, kenangan, dan kebersamaan. Ia mengajak pembaca untuk tidak sekadar melihat rumah sebagai properti, tapi sebagai ruang jiwa.

Dalam dunia yang terus bergerak, Rumah Tua mengingatkan kita bahwa bertahan pun bisa menjadi bentuk cinta dan kebijaksanaan.

Identitas Karya
  • Judul: Rumah Tua
  • Pengarang: ESu
  • Tanggal: 2 Oktober 2025
  • Tempat: Pisangan Tinur
  • Jenis: Puisi naratif-reflektif
Tema dan Makna

Puisi Rumah Tua mengangkat tema tentang kenangan, keengganan meninggalkan masa lalu, dan nilai spiritual serta sosial dari sebuah tempat tinggal. Rumah tua dalam puisi ini bukan sekadar bangunan fisik, melainkan simbol kehidupan, perjuangan, dan akar keluarga. Penolakan untuk pindah bukan karena keras kepala, melainkan karena cinta yang mendalam terhadap sejarah dan nilai-nilai yang tertanam di dalamnya.

Perspektif dan Suara

Puisi ini dituturkan dari sudut pandang seorang ayah yang menanggapi ajakan anaknya untuk pindah ke rumah baru. Suara ayah penuh kelembutan, kebijaksanaan, dan keteguhan. Ia menyampaikan bahwa rumah tua adalah saksi bisu perjuangan hidup, tempat tumbuhnya anak-anak, dan ruang spiritual yang dekat dengan mushalla dan komunitas kampung.

Gaya Bahasa dan Struktur
  • Bahasa: Lugas, intim, dan penuh nuansa lokal.
  • Struktur: Bebas, tidak terikat rima atau metrum, namun mengalir seperti percakapan.
  • Penggunaan repetisi: Frasa “rumah ini” dan “ayah tinggal di sini saja ya” memperkuat emosi dan penegasan.
  • Referensi spiritual: Surah-surah Al-Qur’an yang disebutkan memberi dimensi religius yang mendalam.
Nilai Budaya dan Sosial

Puisi ini menyoroti nilai keguyuban, rukun, dan rembuk dalam masyarakat kampung. Tokoh-tokoh seperti Haji Rouf dan Bang Jali disebut sebagai bagian dari memori kolektif, menandakan pentingnya relasi sosial dalam kehidupan desa.

Kajian subuh bersama Roro dan Ustadz Saiful Rahim menjadi penanda bahwa rumah tua ini masih hidup secara spiritual dan sosial.

Kesimpulan

Rumah Tua adalah puisi yang menyentuh hati, mengajak pembaca merenungkan arti rumah sebagai tempat yang menyimpan kenangan, nilai, dan spiritualitas. ESu berhasil menyampaikan pesan bahwa kemajuan tidak selalu berarti perpindahan fisik; kadang, bertahan adalah bentuk cinta dan penghormatan terhadap masa lalu.

Artikel Terkait

InShot 20260624

Prabowo Lontarkan Kelakar ke Gubernur…

GORONTALO – Presiden RI Prabowo Subianto…

InShot 20260624

DPR Usul Gaji Guru Minimal…

Jakarta – Wakil Ketua Komisi X…

InShot 20260624

Pasar Lipat Kajang Sepi, Harga…

Manggar, Belitung Timur – Rabu, 24…