
Puisi “Aku Tak Mau Di Wisuda” karya ESu dengan sederhana namun kuat menggambarkan tekanan sosial dan ekspektasi keluarga yang sering kali dirasakan oleh mahasiswa.
Sinta, sebagai tokoh utama, mewakili banyak anak muda yang merasa terbebani oleh standar kesuksesan yang sempit, yaitu menjadi sarjana dan diwisuda.
Penolakan Sinta terhadap wisuda bukan sekadar keengganan, tetapi juga bentuk pemberontakan terhadap tekanan yang membuatnya merasa tidak berharga.
Puisi ini mengajak kita untuk lebih peka terhadap perasaan dan keinginan individu, serta mempertanyakan kembali definisi kesuksesan yang sering kali dipaksakan oleh masyarakat.
ESu berhasil menangkap emosi dan konflik internal Sinta dengan bahasa yang lugas dan menyentuh.
Di sebuah sore yang muram, seorang ibu dan tante mengantar Sinta ke sebuah kantor. Sinta, seorang mahasiswi semester akhir, belum juga lulus kuliah.
Ibunya sangat ingin melihat Sinta menjadi sarjana, mengenakan toga di gedung bundar yang dingin, diwisuda dengan bangga. Namun, keinginan itu berbenturan dengan kenyataan pahit yang dirasakan Sinta.
“Mamah, aku tak mau jadi sarjana! Aku tak mau di wisuda!” Sinta berteriak marah, lalu menangis meraung-raung sambil meracau.
Ia merasa bodoh, hanya menghabiskan uang ibunya, dan tidak mampu menjadi sarjana seperti yang diharapkan.
Sang penulis, yang berada di kantor tersebut, membiarkan Sinta meluapkan emosinya. Setelah tangisnya reda, ia berjanji akan bertemu Sinta lagi pekan depan. Ia ingin tahu apa yang sebenarnya menjadi masalah Sinta.
Untuk sebagian orang, masalah Sinta mungkin terlihat sepele, tidak perlu menjadi penghalang untuk menyelesaikan kuliah.
Bagi Sinta, persoalan itu sangat besar. Ia selalu dibandingkan dengan adiknya yang cerdas, yang sudah diwisuda dan bekerja dengan gaji yang lumayan. Tekanan inilah yang membuatnya merasa tidak mampu dan tidak berharga.
Sinta sebenarnya mampu menyelesaikan karya ilmiahnya dan lulus ujian.
Namun, saat akan wisuda, ia menyerahkan toga itu pada ibu dan tantenya. “Aku tak mau diwisuda,” katanya dengan tegas.
Puisi ini adalah potret perjuangan seorang anak muda dalam menghadapi ekspektasi keluarga dan masyarakat.
Sinta adalah representasi dari mereka yang merasa tidak sesuai dengan standar kesuksesan yang ada, dan berani menolak untuk dipaksakan.
Identitas Karya
- Judul Puisi: Aku Tak Mau Diwisuda
- Penulis: Dr. H. Edy Sukardi, M.Pd.
- Profesi Penulis: Rektor Universitas Muhammadiyah Bogor Raya, sastrawan, dan pendidik
- Media Publikasi: Media Daulat Rakyat
- Tanggal Terbit: 30 Oktober 2025
- Jenis Karya: Puisi naratif berbentuk prosa liris
- Tema Utama: Tekanan psikologis mahasiswa, empati dalam kepemimpinan, dan refleksi sosial terhadap budaya akademik
- Tokoh Sentral: Sinta (mahasiswi yang menolak diwisuda)
- Latar Cerita: Kampus, sore hari menjelang wisuda
- Gaya Bahasa: Lugas, reflektif, dengan pengulangan frasa untuk memperkuat emosi
Puisi “Aku Tak Mau Diwisuda” karya Edy Sukardi menggugah kesadaran akan tekanan psikologis dalam dunia pendidikan dan pentingnya empati dalam kepemimpinan.
Puisi ini ditulis oleh Dr. H. Edy Sukardi, M.Pd, Rektor Universitas Muhammadiyah Bogor Raya sekaligus sastrawan Indonesia, dan dimuat di Media Daulat Rakyat pada 30 Oktober 2025.
Ia mengangkat kisah nyata seorang mahasiswi bernama Sinta yang menolak diwisuda meski telah menyelesaikan kuliahnya. Lewat narasi puitis yang menyerupai monolog dan dialog batin, ESu menyuarakan kegelisahan, rasa rendah diri, dan luka perbandingan sosial yang dialami Sinta.
Struktur dan Gaya
- Puisi ini berbentuk naratif, menyerupai prosa liris, dengan alur yang mengalir dari peristiwa sore hari hingga klimaks emosional Sinta.
- Gaya bahasa lugas namun menyentuh, dengan pengulangan frasa seperti “Aku tak mau diwisuda” dan “aku anak bodoh” yang memperkuat tekanan batin tokoh.
- Penulis menggunakan sudut pandang orang pertama sebagai pemimpin institusi, namun tetap humanis dan reflektif.
Tema dan Makna
- Tekanan akademik dan ekspektasi keluarga: Sinta merasa gagal karena dibandingkan dengan adiknya yang lebih sukses.
- Krisis identitas dan harga diri: Ia menyebut dirinya “anak bodoh” dan merasa tidak layak menjadi sarjana.
- Empati dalam kepemimpinan: Sang rektor tidak memaksakan solusi, melainkan memberi ruang untuk istirahat dan refleksi.
Refleksi Sosial
Puisi ini bukan sekadar kisah individu, melainkan cerminan dari sistem pendidikan yang sering kali mengabaikan kesehatan mental mahasiswa.
Ia mengajak pembaca—terutama pendidik dan orang tua—untuk lebih peka terhadap tekanan yang tidak tampak.
Dalam konteks Indonesia, di mana wisuda sering dianggap sebagai simbol keberhasilan keluarga, puisi ini menjadi kritik halus terhadap budaya prestasi yang menekan.
Relevansi dan Daya Sentuh
Karya ini sangat relevan bagi dunia pendidikan, psikologi, dan kepemimpinan. Ia bisa dijadikan bahan refleksi dalam seminar kampus, pelatihan dosen, atau diskusi komunitas. Bagi pembaca umum, puisi ini menyentuh sisi kemanusiaan yang universal: keinginan untuk dimengerti, bukan dihakimi.
Editor : Akhlanudin












