Intisari Berita
- Antrean ratusan kendaraan terjadi di SPBU Parit Padang, Sungailiat sejak pagi, Selasa (18/11/2025).
- Pertalite dan Pertamax langka, warga frustrasi, aktivitas lumpuh: nelayan tak bisa melaut, warga tak bisa bekerja.
- Kios pengecer kosong, masyarakat terpaksa antre berjam-jam demi BBM.
- Warga desak Pemda dan aparat segera turun tangan, cek distribusi dan depo Pertamina.
- Kasus penimbunan BBM yang baru diungkap Polda Babel makin menyulut kemarahan publik.
- Tuntutan keras: tindak tegas oknum dan SPBU nakal, cabut izin jika perlu.
Sungailiat, 18 November 2025 — Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) kembali menghantam Bangka Belitung. Sejak Selasa pagi, antrean ratusan kendaraan mengular di SPBU 24.332.133 Parit Padang, Sungailiat. Motor dan mobil memenuhi ruas jalan, berebut giliran demi beberapa liter bensin yang nyaris “lenyap ditelan bumi”.
Pantauan dilapangan menunjukkan antrean sudah terjadi sejak pagi dan terus memanjang hingga siang. Warga frustrasi: pertalite dan pertamax tak kunjung tersedia.
“Macem mana ne? Mau antar anak sekolah saja susah. Ke pasar pun terhambat. Kami minta Pemda Bangka turun tangan segera,” keluh seorang warga yang telah mengantre lebih dari dua jam.
Kelangkaan ini juga memukul kios pengecer yang kehabisan stok. Warga terpaksa mempertaruhkan waktu dan pekerjaan demi BBM.
“Sekarang di pengecer pun kosong semua. Jadi mau tidak mau harus antre berjam-jam, Bang,” ujar warga lainnya.
Di media sosial, suara-suara kegeraman makin lantang. “BBM saroooooo!!! Nelayan dak pacak kelaot! Urang dak pacak gi begawe! Ngape wooooo!!!” tulis warga dalam unggahan yang viral. Pertanyaan pun mengemuka: Apakah kelangkaan ini hanya terjadi di Sungailiat? Bagaimana dengan daerah lain, Seperadik?
Pemerintah Daerah Bangka Belitung didesak segera mengecek Depo Pertamina dan Migas Babel, memastikan distribusi BBM berjalan normal dan kebutuhan masyarakat serta sektor industri tidak terganggu.
Di tengah kelangkaan, publik juga menyoroti kasus penimbunan BBM oleh oknum yang baru-baru ini diungkap Polda Babel. Kemarahan warga pun memuncak.
“Ayo Pak Gubernur, ayo Pak Kapolda! Tindak tegas oknum-oknum nakal itu. Kalau ada SPBU yang bermain, cabut izinnya. Jangan biarkan rakyat makin susah,” tegas warga.
Krisis BBM ini menjadi alarm keras: BBM bukan sekadar komoditas, tetapi denyut nadi aktivitas masyarakat Babel. Pemerintah dan aparat penegak hukum tak boleh tinggal diam.












