Belitung — Festival Budaya Napak Sire 2026 resmi dibuka di Pantai Wisata Tanjung Pendam, Kabupaten Belitung, Jumat (22/5/2026). Acara yang berlangsung hingga 24 Mei ini menghadirkan pengalaman masa lampau masyarakat Belitung melalui tradisi nyire, tari sekapur sirih, hingga bazar UMKM. Meski sempat diguyur hujan, ribuan pengunjung tetap antusias mengikuti rangkaian kegiatan yang menjadi bagian dari 125 Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026.
Pembukaan Meriah
Ratusan penari tampil membawakan tari sekapur sirih sebagai simbol penyambutan tamu. Tradisi nyire (mengunyah sirih, gambir, kapur, dan pinang) diperkenalkan kepada pengunjung sebagai pengalaman budaya masa silam. Sejumlah atraksi seni tradisional turut memeriahkan suasana, menegaskan kekayaan budaya Melayu Belitung.
“Festival ini bukan hanya hiburan, tetapi juga cara kita mengingat dan merayakan akar budaya Belitung,” ujar Bupati Belitung, Djoni Alamsyah Hidayat, dalam sambutannya.
Dukungan Pemerintah
Bupati Belitung menegaskan festival ini sebagai momentum penting untuk melestarikan budaya daerah sekaligus pemicu pertumbuhan pariwisata. Ia menargetkan Belitung dapat membuka konektivitas internasional melalui promosi budaya.
“Kami ingin Napak Sire menjadi pintu gerbang Belitung menuju dunia, dengan budaya sebagai daya tarik utama,” tambah Djoni.
Sementara itu, Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Hidayat Arsani, menyatakan komitmen mendukung budaya lokal sebagai identitas daerah.
“Budaya adalah jati diri kita. Dengan mengangkat seni dan tradisi, Belitung akan semakin dikenal sebagai destinasi wisata unggulan,” tegas Hidayat Arsani.
-Rangkaian Acara
- Tari tradisional dari berbagai daerah di Indonesia
- Workshop budaya untuk generasi muda
- Permainan tradisional khas Belitung
- Bazar UMKM menampilkan produk lokal
- Fashion show budaya Melayu
“Kami berharap generasi muda bisa belajar langsung dari para pelaku budaya, sehingga tradisi tidak hanya dikenang, tetapi juga diwariskan,” kata salah satu panitia festival.
Makna dan Dampak
- Pelestarian budaya: Menghidupkan kembali tradisi nyire dan seni Melayu Belitung.
- Ekonomi lokal: Memberi ruang bagi UMKM untuk berkembang.
- Pariwisata: Menjadi daya tarik internasional dengan dukungan pemerintah pusat.
- Identitas daerah: Menguatkan kebanggaan masyarakat terhadap warisan budaya.
“Festival ini adalah bukti bahwa budaya bisa menjadi motor ekonomi sekaligus perekat sosial,” ungkap seorang pelaku UMKM peserta bazar.












