Intisari Berita
- Buku Kronik H.AS Hanandjoeddin telah resmi diterbitkan oleh Yayasan Melati Tanjungpandan untuk melengkapi data pengusulan kembali ia sebagai pahlawan nasional.
- Karya kolaboratif Haril M. Andersen dan sejarahwan militer ini berisi rincian kiprah “Pak Long” – perintis AURI, komandan perang kemerdekaan di Jawa Timur, serta tokoh pembentukan Provinsi Babel dan pembangunan Belitung – berdasarkan data primer (catatan pribadi, foto, arsip koran/majalah) dari Perpusnas dan Dinas Sejarah TNI. Peluncuran akan dilakukan dalam seminar kepahlawanan di Uniba pada 16 Desember, dengan harapan jasanya dikenali dan disetujui sebagai pahlawan nasional.
Setelah melalui proses penulisan dan penelitian yang mendalam, buku berjudul Kronik H.AS Hanandjoeddin “Jejak Dokumenter Perjuangan dan Pengabdian Sang Elang dari Bangka Belitung” telah resmi diterbitkan oleh Yayasan Melati Tanjungpandan.
Karya ini bukan hanya sekadar dokumentasi kiprah seorang tokoh, melainkan juga upaya nyata untuk melengkapi data yang diperlukan dalam pengusulan kembali H.AS Hanandjoeddin sebagai pahlawan nasional Indonesia.
Buku ini merupakan hasil kerja sama yang erat antara Haril M. Andersen (penulis yang telah lama meneliti sosok Hanandjoeddin) dan Lettu Caj Muhammad Ivan Harish, seorang sejarahwan militer dari Dinas Sejarah TNI Angkatan Darat. Selama proses penulisan, keduanya dibimbing langsung oleh Prof. Dr. Bambang Purwanto, Guru Besar Ilmu Sejarah pada Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta – seorang ahli sejarah nasional yang memiliki keahlian dalam studi perjuangan kemerdekaan.
Sebagai editor, buku ini diperkuat oleh Brigjen TNI Arif Cahyono (mantan Kepala Dinas Sejarah TNI Angkatan Darat yang juga putra asli Belitung) dan Ali Usman, S.S., yang memastikan keakuratan dan keterbacaan isi buku.
Ini adalah buku ketiga Haril M. Andersen yang mengulas kiprah Letkol Pas (Purn) H.AS Hanandjoeddin. Sebelumnya, ia telah menerbitkan Sang Elang pada tahun 2015 – yang menjadi pembuka pertama tentang perjuangan tokoh yang dikenal warga Belitung sebagai “Pak Long” – dan Memenuhi Panggilan Rakyat pada tahun 2021 yang lebih fokus pada perannya dalam kehidupan masyarakat pasca kemerdekaan.
Lahir di Tanjung Tikar, Sungai Samak, Kecamatan Badau, Pulau Belitung pada 5 Agustus 1910, Hanandjoeddin tumbuh di lingkungan yang memperdalam kesadaran akan kepentingan kebangsaan sejak muda.
Selama masa perjuangan kemerdekaan (1945-1950), “Pak Long” membuktikan diri sebagai komandan pertempuran yang tangguh di berbagai front di Jawa Timur, di mana ia terlibat dalam pertempuran-pertempuran penting melawan pasukan penjajah.
Namun, kiprahnya yang paling menonjol adalah sebagai perintis teknologi kedirgantaraan dan salah satu tokoh pelopor pembentukan Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) – sebuah kontribusi yang sangat berharga karena membangun landasan kekuatan udara negara pada masa yang sulit. Pasca kemerdekaan,
Dia juga berperan besar dalam perjuangan pembentukan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada tahun 70-an, serta menjadi salah satu perintis pembangunan di Pulau Belitung dengan mendorong pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan perekonomian daerah.
Dalam keterangan yang disampaikannya di Tanjungpandan, Kamis, Haril M. Andersen menjelaskan bahwa penulisan buku Kronik ini memang secara khusus dipersiapkan untuk melengkapi data pengusulan kembali H.AS Hanandjoeddin sebagai pahlawan nasional.
Penulisan secara intensif dimulai pada awal tahun 2024, dengan fokus untuk mengungkapkan peristiwa sejarah secara rinci dan terurut, mulai dari masa pergerakan kebangsaan, perang kemerdekaan, hingga akhir hayatnya. Yang membedakan buku ini dari karya sebelumnya adalah penggunaan data primer yang lebih lengkap dan otentik.
Data primer yang digunakan meliputi catatan pribadi langsung dari H.AS Hanandjoeddin, foto dokumentasi yang jarang beredar, dan arsip-arsip penting yang diperoleh dari berbagai lembaga.
Di antaranya adalah koran Harian Merdeka edisi November 1945 yang mencatat aktivitasnya selama masa revolusi, koran Berdjoang, majalah Tempo edisi 1971 yang membahas perannya dalam pembangunan Belitung, serta koran Harian Kompas, Suara Karya, dan Harian Indonesia Raya edisi 1972. Semua arsip ini diperoleh dari Arsip Perpustakaan Nasional RI, Dinas Sejarah TNI Angkatan Darat, dan Dinas Sejarah TNI Angkatan Udara.
Dalam penelusuran arsip yang memakan waktu berbulan-bulan, Haril dibantu oleh tim riset yang terdiri dari arsiparis senior dari Disjarah TNI AD, Disjarah TNI AU, dan pustakawan berpengalaman dari Perpustakaan Nasional RI, yang dengan senang hati memberikan dukungan untuk menemukan data yang relevan.
Peluncuran buku Kronik H.AS Hanandjoeddin secara resmi akan dilaksanakan dalam acara seminar kepahlawanan yang diadakan di Universitas Bangka Belitung pada Selasa (16/12) mendatang. Acara ini diharapkan akan dihadiri oleh para ahli sejarah, tokoh masyarakat, pejabat daerah, dan mahasiswa, yang akan membahas kontribusi H.AS Hanandjoeddin bagi bangsa.
Untuk menambah makna, buku ini diberikan kata sambutan dari tokoh-tokoh penting, antara lain Menko Koordinator Bidang Hukum dan Ham Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc., Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Hidayat Arsani, S.E., Anggota Dewan Perwakilan Daerah RI asal Bangka Belitung Ir. Darmansyah Husein, serta Ketua Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Harwendro Adityo Dewanto, S.H.
“Semoga dengan adanya buku ini yang berisi data primer dan rincian kiprahnya, ‘Pak Long’ H.AS Hanandjoeddin dapat disetujui sebagai pahlawan nasional, sehingga jasa-jasanya dapat dikenali dan dihormati oleh seluruh rakyat Indonesia,” tegas Haril.












