Media Daulat Rakyat

  • Home
  • Daerah
  • WASPADA BANJIR ROB DI PANGKALPINANG! PASANG MAKSIMUM AKIBAT BULAN PURNAMA + PERIGEE 8-9 DESEMBER, POTENSI AIR NAIK HINGGA 3,5 METER
Inshot 20251207 161252679

WASPADA BANJIR ROB DI PANGKALPINANG! PASANG MAKSIMUM AKIBAT BULAN PURNAMA + PERIGEE 8-9 DESEMBER, POTENSI AIR NAIK HINGGA 3,5 METER

Intisari Berita

  • BMKG mengingatkan banjir rob di Pangkalpinang akan mencapai puncak pada 8-9 Desember 2025 akibat Bulan Purnama dan fase Perigee, dengan prediksi tinggi air laut hingga 3,5 meter. Sebelumnya, Minggu (7/12) sudah ada 220 rumah di Kelurahan Gedung Nasional terendam, dengan ketinggian air sampai selutut.
  • Tiga kecamatan (Pangkalbalam, Tamansari, Bukit Intan) terdampak. Warga menyebut ini banjir terparah dalam 2 tahun.
  • BMKG dan BPBD mengimbau warga meningkatkan kewaspadaan, hindari aktivitas di pesisir, dan pantau informasi resmi — BPBD siap siaga 24 jam.

PANGKALPINANG BANGKA — Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan serius kepada masyarakat pesisir Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), terutama Kota Pangkalpinang, untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap banjir pesisir (rob). Pasang maksimum air laut yang dipicu oleh kombinasi Bulan Purnama dan fase Perigee (jarak terdekat bulan ke bumi) akan mencapai puncaknya pada 8-9 Desember 2025, dengan prediksi tinggi muka air laut di pesisir Pangkalpinang mencapai 3,5 meter — jauh di atas rata-rata ketinggian pasang sehari-hari yang berkisar 2,7 hingga 3,4 meter.

Fenomena ini sudah menunjukkan dampak sejak Minggu (7/12/2025) pagi, di mana 220 rumah di Kelurahan Gedung Nasional terendam banjir rob, dengan ketinggian air mencapai 50 hingga 70 sentimeter (selutut orang dewasa) di beberapa titik. BPBD Kota Pangkalpinang menyatakan bahwa ini belum puncaknya, dan potensi banjir akan semakin memburuk dalam dua hari ke depan.

FASE ASTRONOMI YANG MEMICU PASANG TINGGI

Prakirawan Stasiun Meteorologi Depati Amir Pangkalpinang, Annisa Fatikasari, menjelaskan bahwa kombinasi dua fenomena astronomi menjadi penyebab utama kenaikan tinggi muka air laut yang signifikan. “Bulan Purnama pada 4 Desember 2025 bertepatan dengan fase Perigee, di mana jarak bulan ke bumi hanya sekitar 356.800 kilometer — lebih dekat dari rata-rata 384.400 kilometer,” katanya dalam wawancara dengan Bangkapos.com, Minggu sore.

Menurutnya, kondisi ini meningkatkan gaya tarik gravitasi bulan terhadap air laut bumi, sehingga menyebabkan pasang surut yang lebih ekstrem (pasang tinggi lebih tinggi dan surut rendah lebih rendah). “Efek ini tidak hanya terjadi di Babel, tapi juga di sejumlah wilayah pesisir Indonesia, namun intensitasnya bervariasi tergantung pada bentuk pantai dan kedalaman laut lokal,” tambah Annisa.

Data water level BMKG menunjukkan bahwa pasang tinggi pertama pada 7 Desember sudah mencapai 3,2 meter di pelabuhan Pangkalpinang, dan akan terus naik hingga mencapai 3,5 meter pada pukul 08.00 WIB hari Selasa (8/12) dan pukul 08.45 WIB hari Rabu (9/12). “Jam-jam ini adalah waktu yang paling berisiko, warga disarankan tidak keluar ke pesisir atau daerah rawan genangan,” tegas Annisa.

220 RUMAH TERENDAM, TIGA KECAMATAN TERDAMPAK

Kepala BPBD Kota Pangkalpinang, Dedi Revandi, menyampaikan bahwa laporan sementara dari lurah-lurah setempat menunjukkan bahwa banjir rob telah melanda tiga kecamatan dengan sebaran wilayah cukup luas. Selain 220 rumah di RT 5, 6, 7, dan 8 Kelurahan Gedung Nasional (Kecamatan Pangkalbalam), beberapa titik di kecamatan lain juga mengalami genangan:

  • Kecamatan Pangkalbalam: Kelurahan Ketapang (genangan di Jalan Pantai Ketapang), Ampui (RT 3 dan 4), dan Rejosari (daerah pemukiman dekat pantai)
  • Kecamatan Tamansari: Kelurahan Opas (jalan menuju pelabuhan Opas terendam), Kampung Seberang (rumah di pinggir sungai Rangkui), Pasar Trem (beberapa kios pedagang terendam), dan Jalur Sungai Rangkui (genangan menyebar ke permukiman sekitar)
  • Kecamatan Bukit Intan: Kelurahan Pasir Putih (pantai dan permukiman dekat pantai), Pasar Padi (jalan utama terendam), Wisata Pantai Pasir Padi (fasilitas wisata terendam), dan Temberan (rumah di pinggir pantai)

“Kami masih mendata jumlah rumah yang terdampak di wilayah lain, dan akan memperbarui informasi setiap 2 jam,” kata Dedi. Ia menambahkan bahwa BPBD telah mendisposisikan tim penanganan bencana ke setiap kecamatan terdampak, membawa perlengkapan pertolongan pertama dan alat bantu evakuasi. “Jadi far, belum ada laporan korban jiwa atau cedera parah, hanya kerusakan material pada barang-barang warga yang terendam air,” tambah Dedi.

WARGA KATA: BANJIR TERPARAH DALAM DUA TAHUN

Pantauan Bangka Pos di kawasan Kampung Senyum (Kecamatan Tamansari) menunjukkan bahwa air mulai merendam permukiman sejak pukul 07.00 WIB Minggu pagi, dan terus naik hingga pukul 09.00 WIB. Di beberapa rumah, ketinggian air mencapai 70 sentimeter, membuat warga harus mengungsi barang-barang penting ke lantai atas atau tempat yang lebih tinggi.

Marlina (42), warga Kampung Senyum yang telah tinggal di sana selama 15 tahun, mengungkapkan bahwa banjir rob kali ini merupakan yang terparah dalam dua tahun terakhir.

“Sebelumnya, air hanya menggenang di halaman, tapi tahun ini langsung masuk ke dalam rumah. Kami sudah membuat tanggul setinggi 60 sentimeter, tapi tetap jebol,” katanya sambil bersama suaminya membersihkan lantai dan meja yang terendam air.

Ia menambahkan bahwa banyak tetangganya juga mengalami hal yang sama, dan sebagian telah pindah ke rumah kerabat yang berada di daerah yang lebih tinggi.

“Kami berharap air cepat surut, karena anak-anak tidak bisa ke sekolah besok dan kami tidak bisa bekerja,” ujar Marlina dengan nada khawatir.

Di kawasan Pasar Trem, aktivitas perdagangan tetap berlangsung meskipun beberapa ruas jalan dan kios pedagang terendam air setinggi 30 hingga 40 sentimeter. Siti Nurhaliza (35), pedagang sayuran di Pasar Trem, mengatakan bahwa ia harus memindahkan barangnya ke rak yang lebih tinggi untuk menghindari rusak.

“Penjualan hari ini turun banyak, karena pembeli sulit datang. Semoga besok tidak lebih parah,” katanya.

PERINGATAN DAN SIAGA MASYARAKAT

BMKG mengimbau masyarakat pesisir untuk melakukan langkah-langkah pencegahan dan penanggulangan, antara lain:

  1. .Menghindari aktivitas yang berisiko di wilayah pesisir, pantai, dan pelabuhan pada periode puncak pasang (8-9 Desember 2025, terutama pukul 08.00-10.00 WIB)
  2. Mewaspadai potensi genangan di sekitar pelabuhan, tambak, perikanan darat, dan permukiman pesisir
  3. Mengamankan barang-barang penting ke tempat yang lebih tinggi dan jauh dari daerah rawan genangan
  4. Memantau pembaruan informasi cuaca, pasang surut, dan gelombang melalui laman resmi BMKG (bmkg.go.id) atau aplikasi BMKG Cuaca
  5. Segera melapor ke BPBD atau instansi terkait jika terjadi kondisi darurat atau kebutuhan bantuan

Annisa menekankan bahwa pasang maksimum air laut ini merupakan fenomena alam yang dapat diprediksi, sehingga kesiagaan masyarakat sangat penting untuk mengurangi risiko kerugian.

“Jangan mengabaikan peringatan ini, karena kombinasi pasang tinggi, gelombang, dan potensi hujan sedang hingga lebat di Babel dalam beberapa hari ke depan dapat memperbesar dampak banjir rob,” katanya.

Sementara itu, Dedi Revandi menegaskan bahwa BPBD Kota Pangkalpinang siap siaga 24 jam untuk memberikan bantuan.

“Kami memiliki armada evakuasi, tim pertolongan pertama, dan tempat penampungan sementara jika dibutuhkan. Warga hanya perlu menghubungi nomor darurat BPBD Kota Pangkalpinang di 112 atau (0717) 320001,” tegasnya.

Artikel Terkait

InShot 20260211

Menkes Sentil Orang Kaya Penerima…

Intisari Berita JAKARTA – Menteri Kesehatan…

InShot 20260211

Data PBI JKN Ditentukan Daerah,…

Intisari Berita Menteri Sosial Saifullah Yusuf…

InShot 20260211

Diduga Tipu Warga Rp25 Juta,…

Intisari Berita Belitung – Jajaran Satreskrim…

WASPADA BANJIR ROB DI PANGKALPINANG! PASANG MAKSIMUM AKIBAT BULAN PURNAMA + PERIGEE 8-9 DESEMBER, POTENSI AIR NAIK HINGGA 3,5 METER – Media Daulat Rakyat