Media Daulat Rakyat

  • Home
  • Nasional
  • Eksploitasi yang Dilegalkan: Membaca Puisi Edy Sukardi
Inshot 20251209 154310242

Eksploitasi yang Dilegalkan: Membaca Puisi Edy Sukardi

Img 20251209 154442

Puisi Edy Sukardi yang dimuat di Daulat Rakyat menyingkap ironi sosial: gajah-gajah yang merusak negeri justru tak terlihat, meski jelas ada di depan mata. Ia menggambarkan kerakusan, eksploitasi, dan ketidakadilan yang dilindungi konstitusi, lalu menyeru pada keadilan Tuhan.

Puisi karya Dr. H. Edy Sukardi, M.Pd., Rektor Universitas Muhammadiyah Bogor Raya, yang dimuat pada 8 Desember 2025 di Media Daulat Rakyat, menghadirkan sebuah kritik sosial yang tajam.

Dengan metafora “gajah di pelupuk mata tak nampak”, ia mengingatkan pada pepatah lama: betapa mudahnya melihat kesalahan kecil jauh di seberang lautan, tetapi menutup mata terhadap kejahatan besar yang ada di depan mata.

Dalam puisinya, “gajah-gajah” ditempatkan sebagai simbol kekuasaan dan bisnis besar yang dilindungi konstitusi. Mereka bebas merusak negeri: menjarah kayu, mencuri barang tambang, menguras isi bumi, membuka hutan, dan mengeksploitasi emas beserta turunannya.

Semua dilakukan dengan pongah, tanpa tersentuh hukum. Kritik ini diarahkan pada para pemangku kebijakan yang justru ikut-ikutan memperkaya diri, sehingga praktik pencurian dan perampokan sumber daya menjadi sistemik.

Narasi yang dibangun Edy Sukardi bukan sekadar keluhan, melainkan penyingkapan modus operandi yang terjadi di berbagai daerah, bukan hanya di Sumatra.

Ia menegaskan bahwa pola eksploitasi dan korupsi ini berulang di mana-mana, seakan menjadi wajah umum dari kekuasaan yang menyalahgunakan mandat rakyat.

Puncak puisinya adalah doa dan seruan: memohon burung ababil dikirim Tuhan untuk menumbangkan gajah-gajah itu, agar mereka terkapar seperti daun dimakan ulat. Simbol ini mengandung harapan akan keadilan ilahi, bahwa meski manusia gagal menegakkan hukum, Tuhan mampu melakukannya dengan mudah—hayyinun, begitu ia menutup puisinya.

  • Tema utama: kritik terhadap kekuasaan yang melindungi eksploitasi sumber daya.
  • Simbol gajah: lambang keserakahan, kekuasaan, dan kejahatan besar yang dibiarkan.
  • Nada puisi: satir, getir, sekaligus doa untuk keadilan.
  • Pesan: jangan menutup mata terhadap kejahatan besar di depan mata; keadilan Tuhan akan datang.

Puisi ini menjadi cermin sosial yang relevan bagi masyarakat Indonesia, mengingatkan bahwa eksploitasi alam dan korupsi bukan sekadar isu lokal, melainkan masalah nasional yang menuntut keberanian untuk disingkap dan dilawan.

Editor : Akhlanudin

Fb img 1759155898740
Fb img 1759155988254

Artikel Terkait

InShot 20260211

Menkes Sentil Orang Kaya Penerima…

Intisari Berita JAKARTA – Menteri Kesehatan…

InShot 20260211

Data PBI JKN Ditentukan Daerah,…

Intisari Berita Menteri Sosial Saifullah Yusuf…

InShot 20260211

Diduga Tipu Warga Rp25 Juta,…

Intisari Berita Belitung – Jajaran Satreskrim…

Eksploitasi yang Dilegalkan: Membaca Puisi Edy Sukardi – Media Daulat Rakyat