Berpisang di ujung senja
ESu
Harta cukup
Wajah cantik dan tampan
tampilan harmonis
popularitas dipuncak
kenapa tiba-tiba
berembus badai gurun
dari mahligai pesona
berujung pada oecahnya
cermin cinta
berujuang di meja hijau
lantaran dikacau orang ketiga
Persoalan kecil
menjadi percikan api
membakar istana
Apalagi yang kau cari
tak bisakah
bertahan dengan sedikit
sabar
jalan sudah di ujung
pendakian
Sudah lama
kami tak harmonis
tak sanggup lagi
aku berpura-pura setia
berpura-pura bahagia
Si Om usia tujuh dua
dengan si Tante usia
enam sembilan
baru saja jaruh cinta
setelah keduanya berpisah
dengan pasangan mereka
masing-masing
Bukan soal harta
bukan pula karena orang ketiga
tetapi karena sepinya senja
pudar sinar cinta
Lalu Om mau cari apa?
Aku ingin bercerita
ingin berbagi duka
ingin berbagi bahagia
Tante tak paham
egonya semakin menggila
Senja ini
mentari terhalang
awal tebal hitam
aku tak bisa menyaksikan
keindahannya saat ia tenggelam
Di sudut sana
ada suasana riang gembira
nyanyi dan joget dangdut
di ujung senja
Om
Tante
Pohon cinta itu
harus dipupuk dan disirami
agar tak meranggas
dan mati
Di sudut lain
Nenek dan kakek
terkekeh tawa bahagia
Pohon pepaya di depan rumah
buahnya memerah
masak di pohon.
Ah betapa sederhana
hidup ini
Parang Tritis
14 Desember 2025
- DR. H. Edy Sukardi, M.P.d, Rektor Universitas Muhammadiyah Bogor Raya
- Sastrawan Indonesia














