Intisari Berita
- Balai Pemasyarakatan (Bapas) Tanjungpandan melalui inovasi Bekisah mendukung Deklarasi Sekolah Anti Bullying dan Kekerasan di SDN 44 Tanjungpandan, Rabu (28/1/2026).
- Kegiatan ini memperkuat Gerakan Sekolah Ramah Anak dengan fokus pencegahan perundungan melalui pemahaman hukum, pendidikan karakter, dan kolaborasi lintas peran.
BELITUNG – Balai Pemasyarakatan (Bapas) Tanjungpandan melalui inovasi Bekisah turut mendukung Deklarasi Sekolah Anti Bullying dan Kekerasan yang digelar di SDN 44 Tanjungpandan, Rabu (28/1/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan Gerakan Sekolah Ramah Anak dengan fokus pada pencegahan perundungan dan kekerasan sejak dini. Upaya dilakukan melalui pemahaman hukum, pendidikan karakter, serta kolaborasi lintas peran.
Penguatan Pemahaman Hukum
Dalam kesempatan tersebut, Bapas Tanjungpandan memberikan materi kepada tenaga pendidik mengenai Undang-Undang Perlindungan Anak dan Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA).
Selain itu, dijelaskan pula mekanisme diversi sebagai pendekatan keadilan restoratif dalam penyelesaian konflik hukum yang melibatkan Anak Berhadapan dengan Hukum. Pendekatan ini menekankan pemulihan, tanggung jawab bersama, dan kepentingan terbaik bagi anak.
Materi teknis disampaikan oleh Bastian, Pembimbing Kemasyarakatan (PK) Ahli Muda, yang menguraikan praktik penerapan diversi berdasarkan pengalaman penanganan kasus anak.
“Dalam kerangka SPPA, PK berperan melakukan penelitian kemasyarakatan untuk menilai faktor risiko dan kebutuhan anak, lalu merekomendasikan diversi apabila memenuhi syarat formil dan materil,” jelasnya.
Ia menegaskan peran strategis PK dalam setiap tahapan proses peradilan anak, mulai dari asesmen sosial, rekomendasi diversi, fasilitasi musyawarah, hingga pemantauan kesepakatan. Menurutnya, pemahaman guru terhadap prinsip kepentingan terbaik bagi anak, nondiskriminasi, dan partisipasi anak akan memperkuat pencegahan perundungan.
“Diversi bukan pembiaran, melainkan mekanisme hukum yang mengutamakan pemulihan korban, pertanggungjawaban pelaku anak, dan pencegahan stigmatisasi,” tambah Bastian.
Pencegahan Berbasis Empati
Yovie Agustian Putra, Kepala Urusan Tata Usaha, menekankan pentingnya pencegahan berbasis empati dan kasih sayang dalam ekosistem sekolah maupun keluarga.
“Bullying meninggalkan luka yang tidak selalu terlihat. Pencegahan paling efektif adalah membangun budaya saling mencintai di rumah oleh orang tua, di sekolah oleh guru. Anak perlu diyakinkan bahwa mereka dicintai, didengar, dan didampingi untuk berani bercita-cita,” ujarnya.
Apresiasi Sekolah
Kepala SDN 44 Tanjungpandan, Yulianti, menyampaikan apresiasi mendalam atas kehadiran dan materi yang diberikan Bapas Tanjungpandan. Ia terharu melihat dampak langsung kegiatan tersebut pada peserta didik.
“Setelah materi disampaikan, siswa-siswi datang memeluk para guru. Momen itu sangat menyentuh. Petugas Bapas mampu menghadirkan inspirasi yang membumi dan menyentuh hati anak-anak kami,” tuturnya.
Melalui inovasi Bekisah, Bapas Tanjungpandan menegaskan komitmennya untuk terus hadir di ruang-ruang edukatif, memperkuat pencegahan sejak dini, serta membangun sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Tujuannya jelas: menciptakan lingkungan belajar yang aman, ramah, dan mendukung tumbuh kembang anak secara utuh.












