Media Daulat Rakyat

  • Home
  • Nasional
  • KERICUHAN DI DISKUSI UGM, BUDIMAN SUDJATMIKO DIUSIR MAHASISWA
Oplus

KERICUHAN DI DISKUSI UGM, BUDIMAN SUDJATMIKO DIUSIR MAHASISWA

Yogyakarta, 15 Juni 2026 — Suasana diskusi yang digelar di lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM) mendadak berubah menjadi tegang dan ricuh saat Kepala Badan Pengentasan Kemiskinan, Budiman Sudjatmiko, sedang menyampaikan materi di hadapan para mahasiswa.

Kronologi Kejadian

Acara yang semula berjalan kondusif tiba-tiba berubah suasana ketika sekelompok mahasiswa secara mendadak naik ke atas podium utama. Mereka berteriak lantang dengan seruan “revolusi” sekaligus melontarkan tudingan bahwa Budiman Sudjatmiko adalah pengkhianat dan penjilat pemerintahan Prabowo-Gibran. Para mahasiswa juga mengingatkan publik bahwa sosok yang dulunya dikenal sebagai aktivis reformasi dan penentang keras rezim Orde Baru itu kini dinilai telah mengubah haluan perjuangannya.

Bentrokan di Ruangan

Ketegangan makin memuncak ketika aksi protes itu berujung pada saling dorong antara mahasiswa dan petugas keamanan kampus yang berusaha menertibkan situasi. Suasana menjadi semakin panas setelah sebuah botol air mineral dilemparkan ke arah podium. Kondisi sempat berbahaya ketika Budiman Sudjatmiko nyaris dipukul oleh peserta yang sedang meluapkan kemarahan, hingga akhirnya ia terpaksa meninggalkan ruangan dengan pengawalan ketat dari petugas keamanan.

Makna di Balik Peristiwa

Insiden ini mencerminkan ketegangan dan polarisasi pandangan di kalangan mahasiswa terhadap figur publik yang dianggap beralih arah politik. Seruan “revolusi” yang dikumandangkan menunjukkan kekecewaan mendalam atas sikap Budiman yang kini berada di lingkaran kekuasaan pemerintahan. Di sisi lain, peristiwa ini berpotensi memperburuk citra pemerintah sekaligus menegaskan bahwa kampus tetap menjadi ruang yang bebas untuk menyalurkan kritik sosial dan politik.

Awalnya diskusi yang bersifat akademik berubah menjadi ajang protes keras terhadap sosok Budiman Sudjatmiko. Kejadian ini menegaskan kembali posisi mahasiswa sebagai barometer kritik sosial-politik di Indonesia, terutama terhadap tokoh yang dinilai telah meninggalkan idealisme perjuangan yang diperjuangkan di masa lalu.

Artikel Terkait