BELITUNG – Biasanya, pertemuan antar pengelola air minum lebih banyak membahas pipa, debit air, dan tarif. Namun, suasana terasa berbeda saat Musyawarah Antar Perusahaan Air Minum Daerah (MAPAMDA) Perpamsi Bangka Belitung berlangsung di Hotel Grand Hatika, Kamis (18 Juni 2026). Di sini, topik percakapan meluas hingga ke pantai berpasir putih dan batu granit raksasa yang menjadi ikon pulau ini.
Bupati Belitung, Djoni Alamsyah Hidayat, membuka pertemuan dengan pandangan yang lebih luas. Baginya, menjadi tuan rumah bukan sekadar kewajiban administrasi, melainkan peluang emas. “Kami ingin peserta tidak hanya pulang membawa solusi masalah air, tapi juga membawa cerita tentang keindahan Belitung ke daerah asal mereka,” ungkap Djoni.
Strategi ini memiliki landasan yang jelas. Kehadiran rombongan peserta dari berbagai daerah secara otomatis menggerakkan roda ekonomi lokal. Penginapan penuh, pedagang makanan laris, dan jasa transportasi berputar lebih cepat. Lebih dari itu, ini adalah bentuk pencitraan atau branding yang efektif.
Namun, di balik semangat promosi itu, ada tantangan nyata yang harus dihadapi PDAM setempat. Tahun ini, bantuan dana operasional dari pemerintah kabupaten resmi dihentikan. Kebijakan ini menuntut manajemen untuk lebih kreatif dan mandiri. Masalah pelayanan publik tetap harus terjaga, namun efisiensi dan kepercayaan masyarakat menjadi kunci utama keberlangsungan usaha.
Lewat forum ini, pertukaran pengalaman menjadi jembatan. PDAM bisa belajar cara mengatasi kelemahan, sekaligus memamerkan keunggulan yang dimiliki. Jejaring yang terjalin pun tak tertutup kemungkinan membuka akses lebih luas, bahkan menuju pasar global.
Pada akhirnya, pertemuan ini membuktikan bahwa pengembangan daerah tidak berjalan sendiri-sendiri. Urusan air bersih beriringan dengan urusan pariwisata. Saat PDAM Belitung siap melayani tanpa subsidi, nama Belitung pun makin dikenal sebagai pulau yang tak hanya kaya air, tapi juga kaya pesona.












