MEDIA DAULAT RAKYAT BELITUNG TIMUR – Kawasan Hutan Kemasyarakatan (HKM) Dusun Tanah Tebok, Desa Burung Mandi, Kecamatan Damar, yang dulunya menjadi destinasi ekowisata unggulan dan dikunjungi ratusan wisatawan setiap akhir pekan, kini mati suri. Pengelola dari Kelompok Tani Hutan (KTH) Berijo terpaksa beralih fokus ke usaha lain karena terkendala perizinan dan kesiapan pengurus.
Dari Ramai Pengunjung Menjadi Sepi
Aset gazebo kayu milik Dinas Pariwisata Kabupaten Belitung Timur yang berdiri di tengah rindangnya hutan menjadi saksi kejayaan masa lalu. Pada awal tahun 2025, kawasan ini dibuka dan diproyeksikan sebagai andalan wisata alam di wilayah Damar.
“Dulu kalau akhir pekan, ratusan orang datang berbondong-bondong menikmati suasana sejuk, menyusuri jalur setapak, hingga melihat penangkaran madu kelulut. Suasananya sangat ramai,” ujar Ketua KTH Berijo, Norvyandi (39), Kamis (2/7/2026).
Namun kini, gazebo itu sepi tanpa pengunjung. Jalan tanah merah berbatu menuju lokasi pun jarang dilewati. Aktivitas wisata benar-benar berhenti total.
Dua Kendala Utama: Izin dan Manajemen
Penyebab utama berhentinya operasional adalah belum terbitnya izin pungutan daerah. Pengelola tidak berani menarik tarif masuk, sehingga hanya mengandalkan sumbangan sukarela dari pengunjung. Tanpa pendapatan pasti, biaya perawatan fasilitas dan kebersihan tidak terpenuhi, membuat kunjungan perlahan menurun drastis.
“Kita tidak berani memungut tarif karena regulasi belum jelas. Jika ada yang memberi sumbangan untuk kebersihan silakan, jika tidak pun tidak apa-apa. Lama-lama kami kesulitan membiayai perawatan,” jelas Norvyandi.
Selain masalah izin, ada kendala internal: keterbatasan kapasitas SDM. Pengurus belum memiliki kemampuan manajemen pariwisata yang memadai dan belum bisa fokus sepenuhnya mengembangkan sektor ini.
Beralih Fokus ke Potensi Lain
Karena kendala tersebut, KTH Berijo kini lebih mengoptimalkan peluang ekonomi lain yang lebih terjangkau, seperti budidaya madu trigona dan perkebunan mandiri warga. Langkah ini juga didukung pemerintah daerah; baru-baru ini Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Distangan) Beltim menyatakan siap memfasilitasi pengajuan sertifikasi Nomor Kontrol Veteriner (NKV) untuk produk madu mereka agar layak diedarkan secara resmi.
Harapan Kembali Hidup
Meskipun wisata ditiadakan sementara, koordinasi dengan Dinas Kehutanan maupun Pariwisata tetap berjalan. Norvyandi menegaskan kawasan ini masih menyimpan potensi besar: lahan cocok untuk perkebunan buah, sumber air bersih melimpah sepanjang tahun, serta keanekaragaman hayati yang asli.
“Harapan kami ada pendampingan khusus untuk meningkatkan kemampuan pengurus, serta penyelesaian perizinan yang legal. Kami ingin hutan ini kembali memberi manfaat ekonomi berkelanjutan bagi warga Desa Burung Mandi, bukan sekadar aset yang terbengkalai,” pungkasnya.












