MEDIA DAULAT RAKYAT BELITUNG TIMUR – Kobaran api kembali melalap hamparan lahan di Kabupaten Belitung Timur pada awal Juli 2026. Titik terparah terjadi di Desa Selinsing, Kecamatan Gantung, di mana seluas 6 hektare hutan dan lahan produktif hangus terbakar. Dugaan sementara mengarah pada kelalaian manusia, yaitu puntung rokok yang dibuang sembarangan.
Bukan hanya di Selinsing, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Belitung Timur mencatat total ada tujuh titik kebakaran yang tersebar di empat kecamatan: Manggar, Damar, Gantung, dan Simpang Renggiang. Secara keseluruhan, api telah menghanguskan sekitar 19 hektare lahan yang sebagian besar berupa kawasan hutan dan area pertanian warga. Asap tebal yang menyelimuti lokasi kejadian pun dikhawatirkan akan mengganggu kesehatan masyarakat serta menurunkan kualitas udara di wilayah sekitar.
“Dari akumulasi 19 hektare lahan yang terbakar di Belitung Timur, paling besar itu daerah Selinsing, Kecamatan Gantung, sekitar 6 hektare,” ungkap Kepala Pelaksana BPBD Belitung Timur, Robby Yanuar.
Ia menegaskan bahwa kejadian ini bukan semata-mata dipicu kondisi alam. “Kalau penyebab itu kemungkinan paling besar dari orang membuang puntung rokok sembarangan,” tambahnya.
Menghadapi situasi ini, BPBD Belitung Timur telah menetapkan status siaga penuh. Tim Reaksi Cepat beserta seluruh peralatan pemadam kebakaran telah dikerahkan ke lokasi untuk memadamkan sisa api dan mencegah kobaran menyebar ke area yang lebih luas.
Pihak berwenang pun memohon peran serta seluruh warga Belitung Timur untuk lebih waspada. Masyarakat diminta untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan, dan segera melapor ke petugas jika melihat tanda-tanda kebakaran.
Kasus di Desa Selinsing menjadi pengingat nyata bahwa kelalaian sekecil apa pun dapat menimbulkan kerugian besar. Kebakaran lahan tidak hanya merusak ekosistem dan sumber penghidupan warga, tetapi juga mengancam kesehatan dan keselamatan bersama. Di tengah memasuki musim kemarau, kesadaran dan kedisiplinan masyarakat menjadi kunci utama untuk mencegah bencana serupa terulang kembali.












