
PEMUKIR SEJARAH
Aku bukan penamat kisah
Aku bukan penutup lembaran yang robek oleh zaman
Aku datang bukan membawa titik
Tapi membawa pahat dan api
Aku di sini
memahat masa lampau di dinding karang Belitung
agar ombak tak sanggup menghapusnya
agar angin tak berani melupakannya
Kulihat buruh tambang
berdiri seperti raksasa di perut bumi
menaklukkan timah dengan tangan berdarah
menyuapi perut anaknya dengan keringat yang mengeras jadi logam
bumi digali, tapi harga dirinya tak pernah runtuh
Kulihat nelayan
berlayar menantang raja laut
menjinakkan badai dengan doa dan dayung
jaringnya menampung rezeki
tubuhnya menampung badai
namanya dituliskan ombak, lalu dihapus, lalu ditulis lagi
Kulihat petani
menunduk, bukan karena kalah
tapi karena mencium tanah Melayu yang melahirkannya
menanam padi di atas luka
menuai harapan di atas kemarau
menjaga warisan leluhur dengan punggung yang tak pernah lurus
Ini tanah Melayu Belitung
tanah yang ditempa palu, diasin garam, disiram peluh
tanah yang tidak butuh ditamatkan
tapi butuh diingat
butuh diukir
butuh diteriakkan ke langit
Maka aku pahat
satu-satu
nama, luka, dan tawa mereka
ke dalam batu sejarah
agar seribu tahun lagi
cucu-cucu kita masih mendengar
gemuruh tambang, debur laut, dan desir padi
Karena aku bukan penamat
Aku adalah pemahat keabadian
Jakarta, 9 Juli 2026
Akhlanudin












