
SEBUTIR TELUR UNTUK 3 ANAK
“Ibu, mana perlengkapan sekolah kami?
Ini sudah masuk tahun ajaran baru.
Teman-teman sudah pakai tas baru, buku baru…
Kami masih pinjam punya kakak kelas.”
Sang ibu menoleh dari wajan.
Api kecil. Minyak sedikit.
Ia pecahkan sebutir telur ayam.
Digoreng pelan. Dibagi tiga.
“Sabar anakku…”
Suaranya serak, tapi dipaksa tegar.
“Bapak itu dulu janji kampanye.
Katanya perlengkapan sekolah gratis
untuk seluruh anak sekolah.”
Janji itu sebesar spanduk.
Tinggi. Ramai. Dipasang di tiap sudut kampung.
Tapi hari ini, yang turun ke meja makan
hanya sebutir telur… untuk tiga perut.
Buku belum ada.
Seragam masih dijahit ulang dari tahun lalu.
Sepatu ditambal pakai lem.
Tapi di televisi, katanya “pendidikan prioritas”.
Ibu menghela napas.
Menata telur di piring retak.
“Sudah, makan dulu.
Nanti Ibu coba ke warung, pinjam dulu bukunya ya.”
Di luar, spanduk kampanye mulai pudar.
Di dalam, tiga anak mengunyah harapan
yang dibagi rata… setipis kulit telur.
Jakarta 10 Juli 2026
Akhlanudin












