
AYAH DAN LAYAR YANG PUDAR
Ayahku hanya nelayan.
Tangannya kasar oleh garam dan tali.
Punggungnya bungkuk menahan ombak,
tapi dadanya dulu tegak saat kampanye.
“Tenang Pak,” kata mereka.
“Kami akan bantu perbaiki perahumu.
Perahu rakyat harus kuat,
agar laut memberi makan negeri.”
Ayah percaya.
Ayah jadi garda terdepan.
Berteriak paling keras.
Pasang bendera paling tinggi.
Menjemput dengan perahu tuanya,
menjadi saksi janji di atas dermaga.
Hari berganti musim.
Musim berganti tahun ajaran baru.
Spanduk itu kini compang-camping.
Wajah di spanduk sudah pindah ke gedung.
Dan perahu ayah?
Masih di sini.
Dengan layar yang sudah usang dimakan usia.
Ditambal sana-sini pakai harapan.
Bocor di lambung, tapi tetap dipaksa berlayar.
Karena kalau tidak, dapur tak akan mengepul.
Kini harapan itu sirna.
Tersapu ombak yang sama
yang dulu dijanjikan akan ditaklukkan.
Janji-janji manis…
bertanur dusta.
Manis di panggung, pahit di laut.
Manis saat butuh suara,
dusta saat butuh bukti.
Ayah masih melaut pagi ini.
Dengan layar koyak,
membawa nama orang yang melupakannya.
Dan laut… laut tetap diam.
Saksi bisu bahwa yang mengkhianati
bukan badai,
tapi manusia.
Jakarta 11 Juli 2026
Akhlanudin












