
BISMILLAH DI PASAR LIPAT KAJANG
Di Pasar Lipat Kajang, Manggar, Belitung Timur,
pagi datang lebih dulu dari pembeli.
Tenda dibuka.
Sayur ditata.
Bumbu diulek harapan.
Tapi yang datang cuma angin
dan cemas yang duduk dari jam 6.
Galih, pedagang bumbu dan sayur,
berbisik tiap kali menggelar dagangan:
“Bismillah…”
Bukan karena semangat.
Tapi karena takut.
Takut dari pagi sampai siang
pasar tetap sepi.
Dulu keranjang penuh dalam sejam.
Sekarang keranjang penuh sampai sore.
Dulu uang kembali berputar.
Sekarang uang mampir di buku bon.
“Bang, catat dulu ya. Gajian baru bayar.”
Perputaran modal macet.
Seperti jalan di depan pasar
yang lama tak diaspal.
Daya beli masyarakat menurun.
Orang belanja secukupnya.
Cabai 2 ribu.
Bawang 1 siung.
Tempe setengah.
Lauk dipotong.
Harapan juga ikut dipotong.
Omzet terus menurun.
Tapi sewa lapak tetap naik.
Harga barang tetap naik.
Yang turun hanya senyum pedagang
dan jumlah orang yang lewat.
Galih menatap jalan.
Berharap ada motor berhenti.
Berharap ada ibu-ibu nanya harga.
Berharap ekonomi segera membaik.
Agar Pasar Lipat Kajang kembali ramai.
Agar bismillah yang diucap pagi
berubah jadi alhamdulillah di malam.
Tapi hari ini…
Ia masih menunggu.
Di antara timbangan dan tumpukan cabai,
menjual dengan doa
karena pembeli sedang menahan lapar.
Jakarta 14 Juli 3026
Akhlanudin












