TETE… KOPI SEGLAS LIMA RIBU
Pulang menambang tidak ke rumah.
Langkahnya berbelok.
Lumpur timah masih menempel di kuku.
Peluh masih asin di leher.
Tapi ia tidak pulang.
Ia ke Warkop.
Bercengkrama dengan pramusaji
yang mereka panggil: “Teteh”.
Suaranya paling keras di antara tawa.
Biar lupa dengan razia.
Biar lupa dengan lubang.
Biar lupa dengan utang.
“Teteh, kopi satu!”
Kopi segelas lima ribu.
Pahit, panas, mengepul.
Tapi yang ditaruh di meja
uang lima puluh ribu.
“Kembalian buat Teteh ya.”
Tawa pecah.
Teteh senyum.
Kawan menepuk bahu.
Hasil keringat dari menambang timah
habis di warkop.
Di meja kayu, di atas asbak penuh puntung.
Di obrolan yang berputar-putar
tentang harga, tentang janji, tentang besok.
Sementara itu…
Di rumah,
Anak bini menjerit: “Beras habis.”
Dapur kosong.
Rice cooker dingin.
Yang ada hanya sendok dan doa.
Epik?
Ini epik.
Epik seorang lelaki
yang berjuang di bawah tanah
demi keluarga,
tapi tenggelam di atas meja
demi melupakan perjuangan.
Lima ribu untuk kopi.
Empat puluh lima ribu untuk lupa.
Dan semua itu dibayar
dengan tulang yang remuk di tambang
dan perut yang kosong di rumah.
Wahai Teteh…
Kopi memang menghangatkan.
Tapi siapa yang menghangatkan rumah
ketika kompor tak menyala?
Jakarta 14 Juli 2026
Akhlanudin












