MEDIA DAULAT RAKYAT TANJUNG PANDAN BELITUNG — Industri pariwisata di Kabupaten Belitung menghadapi paradoks yang unik. Di satu sisi, grafik kunjungan wisatawan nusantara (wisnus) menunjukkan tren peningkatan. Namun di sisi lain, tingkat hunian hotel di pulau berpasir putih ini justru tetap tiarap.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bangka Belitung, tercatat ada sekitar 414 ribu perjalanan wisnus ke wilayah tersebut. Ironisnya, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel di Belitung hanya mampu menyentuh angka 24,22 persen.
Sementara itu, data Dinas Pariwisata Kabupaten Belitung sepanjang Januari hingga April 2026 mencatat ada 70.336 kunjungan wisnus. Khusus pada April 2026, kunjungan mencapai 19.803, naik dibanding April 2025 yang berada di angka 18.300 kunjungan.
Krisis Kursi Pesawat vs Kamar Hotel
Salah satu faktor utama ketimpangan ini adalah keterbatasan transportasi udara yang tidak sebanding dengan kapasitas akomodasi yang tersedia di Belitung. Saat ini, Belitung memiliki sekitar 2.000 kamar hotel, namun akses penerbangan sangat terbatas.
Kabid Promosi Dinas Pariwisata Belitung, Adi Febriatna, menjelaskan bahwa keterbatasan kursi pesawat menjadi tembok penghalang utama bagi hotel untuk mencapai okupansi maksimal.
“Peningkatan jumlah kunjungan wisatawan memang tidak selalu berbanding lurus dengan okupansi hotel,” ujar Adi. “Misalnya kita memiliki tiga penerbangan sehari dengan kapasitas sekitar 120 kursi per penerbangan. Kalau diasumsikan hanya setengahnya merupakan wisatawan, berarti hanya sekitar 180 wisatawan yang datang. Sementara jumlah kamar hotel di Belitung mencapai sekitar 2.000 kamar.”
Perbedaan Metode Catat BPS dan Dinas Pariwisata
Selain masalah transportasi, lonjakan angka yang jomplang ini juga dipicu oleh perbedaan metode pencatatan data. BPS menggunakan metode Mobile Position Data (MPD) yang melacak pergerakan berbasis sinyal ponsel, sehingga satu orang bisa terhitung beberapa kali dalam sehari.
“Misalnya satu wisatawan berkunjung ke Tanjung Kelayang dihitung satu perjalanan, kemudian berpindah ke Tanjung Tinggi dihitung lagi sebagai perjalanan berikutnya. Jadi dalam satu hari seseorang bisa tercatat dua sampai tiga kali perjalanan,” kata Adi menambahkan.
Sebaliknya, Dinas Pariwisata Belitung mengandalkan laporan riil dari hotel, homestay, serta data kedatangan penumpang di pintu masuk. Masalahnya, belum semua pemilik homestay rutin melaporkan tingkat keterisian mereka, sehingga akurasi data akomodasi secara keseluruhan belum sepenuhnya optimal
Durasi Singkat Wisatawan
Faktor lain yang membuat kamar hotel sering kosong adalah singkatnya waktu kunjungan. Rata-rata lama tinggal (length of stay) wisatawan di Belitung saat ini hanya berkisar 1,48 malam.
Meskipun wisatawan mengambil paket wisata populer “3 Hari 2 Malam”, secara riil waktu menginap mereka efektif kurang dari dua malam penuh. Akibatnya, distribusi wisatawan menjadi sangat cair dan cepat, membuat hotel tidak otomatis penuh meskipun angka pergerakan wisata di media sosial atau tempat wisata terlihat ramai.
Untuk mengatasi ketimpangan ini, para pelaku industri berharap adanya strategi baru dari pemangku kebijakan, mulai dari penambahan frekuensi penerbangan ke Belitung, edukasi pelaporan bagi pemilik homestay, hingga pembuatan paket wisata kreatif yang mampu menahan wisatawan agar tinggal lebih lama












