
“DI ATAS KEKURANGAN”
Sebuah Puisi Epik
Kami berdiri di medan retak,
di tanah yang menolak tunas.
Punggung kami dipalu matahari,
tangan kami dikerat duri.
Kami mencoba kuat di atas kekurangan,
menambal langit dengan benang keringat.
Tak lelah banting tulang di batu,
meski lutut berdarah, meski dada sesak.
Badai kami hadapi dengan rahang terkatup,
lapar kami taklukkan dengan sepotong harapan.
Tulang ini patah, kami sambung lagi.
Nama kami jatuh, kami angkat sendiri.
Tapi kau?
Lihat dirimu!
Di singgasana keluhan kau bertakhta,
di cermin retak kau cari kesalahan dunia.
Diberi napas kau hitung sesaknya,
diberi jalan kau kutuk bebatunya.
Kau tak bersyukur dengan dirimu,
padahal darah yang sama mengalir di nadi.
Padahal langit yang sama menaungi kepala.
Padahal tangan yang sama bisa menggenggam.
Wahai saudaraku,
berdirilah dari debu penyesalan.
Angkat tulangmu yang masih utuh,
nyalakan api yang belum padam.
Karena epik bukan tentang yang punya segalanya,
epik adalah tentang kami —
yang kuat di atas kekurangan,
yang tetap berjalan meski dunia bilang: berhenti.
Jakarta 23 Juli 2026
Akhlanudin












