“LUKA DI UJUNG PICKAX”
Di pesisir Belitung Timur, ombak membawa keluh
Para penambang duduk, lumpur di kuku
Harga timah jatuh, seperti timbangan patah
“Buat makan saja pas-pasan!” seru mereka lelah
Pickax berkarat, tapi tangan tak berhenti
Laut dikeruk, keringat jadi saksi
Anak menunggu di rumah, beras makin menipis
Tapi timah murah, harga nyawa ditaksir tipis
Lalu datanglah Bapak itu
Langkah tenang, bicara tak menggurui
Ia lihat tanah merah, lihat langit terbuka
Lalu berkata pelan di tengah riuh keluh:
“Saudaraku…
Timah bisa habis, tapi tanah tidak.
Cangkul yang sama, arahkan ke kebun.
Tanam lada, tanam ubi, tanam harapan.
Biar perut tak hanya tergantung pada harga dunia.”
Hening.
Ada yang mengangguk, ada yang masih menunduk
Ada yang marah, “Kami penambang, bukan petani!”
Tapi Bapak tersenyum, menunjuk akar:
“Akar kuat bukan karena satu tanah.
Kalau satu pintu sempit, bukalah pintu lain.
Berkebun bukan menyerah.
Itu cara kita agar tak dijajah harga.”
Hari berganti.
Sebagian kembali ke lubang timah
Sebagian mulai mencangkul tanah, menanam benih
Bukan karena lupa jadi penambang
Tapi karena belajar: hidup harus punya dua kaki
Agar saat harga jatuh
Kita tidak ikut jatuh.
Agar saat timah murah
Harga diri kita tetap mahal.
Jakarta 23 Juli 2026
Akhlanudin












