Media Daulat Rakyat

InShot 20260802

Goresan Puisi Epik KDB

1000908259

Sudahkah Kita Merdeka?

Di atas karang Belitung ombak masih bicara,
tentang darah yang tumpah, tentang sumpah yang terucap.
Tujuh belas Agustus, tahun itu langit menganga,
dan nenek moyang berteriak: “Merdeka! Harga mati!”

Tapi merdeka…
apakah hanya sebatas bendera naik di tiang bambu?
Apakah hanya sebatas lagu dinyanyikan serentak,
sementara perut masih lapar, dan sekolah masih bocor?

Lihatlah laut kita,
dulu dijaga dengan bambu runcing dan dada telanjang.
Kini kabel bawah lautnya dipotong di malam buta,
demi tembaga segenggam, demi perut sindikat.
Lihatlah tanah kita,
puluhan tahun statusnya menggantung seperti layang-layang putus,
baru hari ini kita berani berkata: “Ini milik kita!”
Dan sawah jadi tambang, tambang jadi lubang,
lalu siapa yang menutupnya?

Merdeka itu bukan hanya lepas dari penjajah berseragam.
Merdeka itu ketika nelayan Teluk Dalam tidur tanpa takut.
Merdeka itu ketika ibu tak pusing denda pajak menumpuk.
Merdeka itu ketika anak di Manggar bisa sekolah tanpa ragu,
karena WPR sudah legal, dan keringat ayahnya halal.

Kita sudah merdeka dari penjajahan.
Tapi apakah kita sudah merdeka dari kemiskinan?
Dari kebodohan?
Dari korupsi yang menggerogoti seperti rayap di tiang negeri?
Dari malas? Dari saling menyalahkan?

Gubernur bicara transparansi.
Bupati bicara sertifikat.
Nelayan bicara patroli.
Semua bicara. Tapi siapa yang benar-benar berbuat?

Hei, anak cucu Sang Saka!
Jangan tanya lagi “Sudahkah kita merdeka?”
Tanyalah: “Sudahkah kita mengisi kemerdekaan?”
Dengan jujur saat berdagang.
Dengan patuh saat membayar pajak.
Dengan menjaga laut, hutan, dan timah di perut bumi.
Dengan tidak membakar rumah hanya karena gas bocor.
Dengan tidak mencuri kabel hanya karena ingin cepat kaya.

Merdeka itu kerja.
Merdeka itu tanggung jawab.
Merdeka itu ketika kita berani melawan diri sendiri,
sebelum melawan dunia.

Jadi, sudahkah kita merdeka?
Selama satu orang pun masih tertindas, jawabannya: belum.
Selama satu jengkal tanah pun masih disengketakan, jawabannya: belum.
Selama kita masih saling menjatuhkan demi 3 kilo tembaga, jawabannya: belum.

Tapi jika hari ini kita mulai,
mulai dari desa, mulai dari diri,
maka 81 tahun bukan sekadar angka.
Ia adalah napas baru.
Ia adalah janji yang akhirnya ditepati.

Indonesia!
Bukan hanya untuk dirayakan,
tapi untuk diperjuangkan…
setiap hari.

Jakarta, 3 Agustus 2926

Akhlanudin

Artikel Terkait

InShot 20260802

Puisi Puisi Edy Sukardi

Mentaripun Pamit Mentari yang siang tadipanasnya…

Oplus

Pemerintah Salurkan Bansos Beras 30…

MEDIA DAULAT RAKYAT JAKARTA, 2 Agustus…