MEDIA DAULAT RAKYAT MANGGAR, 23 September 2026 – Langit Belitung Timur yang sudah berminggu-minggu tanpa hujan membuat ratusan warga bergerak. Bukan dengan demo, tapi dengan doa.
Pada Selasa pagi (23/9/2026), ratusan warga Belitung Timur melaksanakan Salat Istisqo atau salat meminta hujan di pelataran Masjid Agung Darussalam, Desa Baru, Kecamatan Manggar. Acara ini diinisiasi Pemkab Beltim bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Beltim dan seluruh ormas keagamaan.
Pemandangan mengharukan terlihat: bapak-bapak dengan kopiah putih, ibu-ibu dengan mukena, hingga anak-anak sekolah dasar berbaris rapi di bawah terik matahari yang menyengat, memohon turunnya hujan di tengah krisis kekeringan dan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Rangkaian Khidmat di Bawah Terik Matahari
Pelaksanaan Salat Istisqo berlangsung khidmat sejak pukul 07.30 WIB.
Bertindak sebagai Imam adalah Imam Besar Masjid Agung Darussalam, H. Hanafi. Sementara Maksyiral (pembaca doa) adalah Kiai Anwari, dan Khotbah disampaikan oleh Ustadz Slamet Hidayat. Acara dipandu langsung oleh Sekretaris Umum MUI Beltim, Ust. Try Mario Sandy.
Prosesi salat dilakukan sesuai sunnah:
- Dua rakaat berjemaah di tanah lapang.
- Rakaat pertama diawali dengan takbir 7 kali sebelum membaca Al-Fatihah.
- Rakaat kedua diawali dengan takbir 5 kali sebelum Al-Fatihah.
- Setelah salat, seluruh jemaah mendengarkan khotbah dan melanjutkan doa bersama dengan tangan menengadah ke langit.
“Allahu Akbar, semoga Allah segera menurunkan hujan yang membawa rahmat,” terdengar doa yang diaminkan ratusan jemaah dengan mata berkaca-kaca.
Latar Belakang: Sumur Kering, Lahan Terbakar
Salat Istisqo ini digelar bukan tanpa alasan. Musim kemarau panjang tahun ini menjadi salah satu yang terparah dalam lima tahun terakhir di Belitung Timur.
Beberapa titik di Kecamatan Kelapa Kampit, Damar, dan Gantung sudah mengalami krisis air bersih. Sumur-sumur warga mengering. Lahan-lahan gambut mulai retak. Dan yang paling mengkhawatirkan, titik-titik api karhutla mulai bermunculan di beberapa kebun warga akibat cuaca ekstrem.
BPBD Beltim mencatat, dalam dua minggu terakhir sudah ada 7 kejadian kebakaran lahan yang harus dipadamkan dengan susah payah karena minimnya sumber air.
Pesan Muhasabah: Bukan Sekadar Minta Hujan
Sekretaris Umum MUI Beltim, Ust. Try Mario Sandy, menegaskan bahwa Salat Istisqo memiliki makna yang lebih dalam dari sekadar meminta hujan.
“Salat Istisqo tidak hanya bertujuan memohon hujan, tapi juga menjadi momen muhasabah. Khatib tadi mengajak kita memperbaiki hubungan dengan Allah SWT, sesama manusia, dan alam semesta,” ujar Try Mario.
Ia menjelaskan, dalam khotbahnya, Slamet Hidayat mengajak jemaah untuk introspeksi: mungkin kemarau panjang ini adalah teguran agar manusia lebih menjaga alam, tidak membakar hutan sembarangan, dan lebih peduli terhadap sesama.
Tradisi Salat Istisqo ini menunjukkan betapa kuatnya peran agama dan kearifan lokal dalam menghadapi krisis alam di Belitung Timur. Di saat teknologi modifikasi cuaca belum tentu menjangkau, doa bersama menjadi ikhtiar spiritual yang menyatukan semua elemen masyarakat.
Solidaritas warga Beltim terlihat jelas hari ini. Mereka tidak hanya mengeluh soal kekeringan di media sosial, tapi datang, berkumpul, dan berdoa bersama. Sebuah momentum yang memperlihatkan bahwa di tengah ancaman karhutla dan kekeringan, warga Beltim masih punya harapan dan kebersamaan.
Usai salat, panitia juga membagikan air minum dan mengimbau warga untuk tetap menghemat air, tidak membakar sampah di siang hari, dan segera melapor jika melihat titik api di hutan.












