
BELITUNG — Yayasan Sijuk Peduli Bersama menyelenggarakan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-210 Pak Kung Kelenteng Sijuk pada 29–30 Juli 2025. Kelenteng Sijuk, yang dibangun pada tahun 1815, merupakan kelenteng tertua di Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Ratusan warga memadati halaman kelenteng pada malam puncak perayaan, Minggu (29/6/2025), untuk menyaksikan hiburan musik dari sejumlah penyanyi tamu luar kota. Acara turut dihadiri sejumlah tokoh penting, di antaranya Anggota DPRD Belitung Jonathan Axel Hernandie, Bupati Belitung Timur Kamarudin Muten, serta tokoh masyarakat dan tamu undangan lainnya.
Sekretaris Yayasan Sijuk Peduli Bersama, Ayie Gardiansah, dalam sambutannya menyampaikan bahwa malam penyambutan ini merupakan momen bersejarah yang layak dimaknai oleh seluruh elemen komunitas. Ia mengungkapkan rasa syukur atas cuaca yang bersahabat setelah sebelumnya diguyur hujan.
“Ini pertanda bahwa semesta turut menyambut semangat kita malam ini,” ujar Ayie.
Ia menekankan bahwa eksistensi dan perkembangan Kelenteng Sijuk selama lebih dari dua abad tidak terlepas dari kontribusi para donatur, dewan pengurus, tokoh masyarakat, dan komunitas setempat.
“Pembangunan yang kami lakukan tidak hanya menyangkut fisik, tetapi juga nilai dan spiritualitas. Tiga pilar utama kami adalah rukun, harmoni, dan spiritualitas,” tambahnya.
Menurut Ayie, Kelenteng Sijuk kini bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga destinasi budaya dan spiritual yang memberikan kontribusi penting bagi Belitung dan Indonesia.
Sebagai bagian dari penghormatan terhadap lingkungan dan sesama, ia juga mengimbau seluruh hadirin untuk menjaga kebersihan selama acara berlangsung:
“Hal kecil seperti tidak membuang makanan dan sampah sembarangan adalah wujud rasa syukur kita,” pesannya.
Senada dengan itu, Anggota DPRD Belitung Jonathan Axel Hernandie mengapresiasi dukungan para tamu dan komunitas yang terus menjaga eksistensi Kelenteng Sijuk. Ia menekankan bahwa proses pembangunan yang telah berjalan tidak lepas dari dukungan moral dan material berbagai pihak.
“Mari kita jaga dan lestarikan tempat bersejarah ini, bukan hanya bangunannya, tetapi juga nilai-nilai spiritual di dalamnya,” tutur Jonathan, seraya berharap kelenteng ini dapat terus berkembang sebagai destinasi wisata spiritual bernilai tinggi di Pulau Belitung.












