Media Daulat Rakyat

  • Home
  • Daerah
  • Menelisik Sungai Purba Tebat Rasau: Jejak Zaman dalam Rawa Rasau
Img 20250730 200825

Menelisik Sungai Purba Tebat Rasau: Jejak Zaman dalam Rawa Rasau

Img 20250730 200933

oleh : Akhlanudin

Di jantung Belitung Timur, tepatnya di Desa Lintang, Kecamatan Simpang Renggiang, tersembunyi sebuah lanskap purba yang membisikkan cerita bumi dari jutaan tahun silam:

Tebat Rasau. Kawasan ini bukan sekadar rawa; ia adalah jejak hidup sungai purba yang terbentuk akibat retakan geologis pada masa Kenozoikum—sekitar 60 hingga 70 juta tahun lalu.

Kini, Tebat Rasau berdiri sebagai geosite andalan dalam Geopark Belitong yang diakui UNESCO, sekaligus simbol ketangguhan komunitas lokal dalam menjaga warisan alam dan budaya.

Dari Retakan Zaman ke Rawa Kehidupan

Tebat Rasau terbentuk dari rawa rheotropik planar, hasil patahan geologis besar yang menciptakan alur sungai purba di dataran rendah.

Permukaan airnya yang tenang mencerminkan hutan rasau yang lebat, di mana Pandanus helicopus tumbuh dominan. Tanaman ini tak hanya memberi nama bagi kawasan ini, tetapi juga berperan penting dalam menyaring air dan menyediakan habitat bagi ikan endemik.

Lebih dari 130 jenis ikan air tawar hidup di dalamnya, termasuk arwana hias, ampong (Channa marulius), dan buntal bintik hijau.

Menariknya, studi biogeografis menemukan spesies yang tak dijumpai di Belitung Barat, menunjukkan isolasi ekologis yang berlangsung sejak Zaman Es.

Ruang Belajar dan Tradisi

Wisata di Tebat Rasau tak hanya menawarkan pemandangan—ia menyuguhkan pengalaman hidup. Pengunjung dapat mengikuti susur sungai tradisional dengan sampan, sembari mempelajari teknik menangkap ikan secara adat menggunakan muncong, alat tangkap berbentuk kerucut yang dipasang di tepi sungai.

Di sekitarnya, berdiri Rumah Akuarium yang menampilkan kekayaan fauna air tawar lokal, serta Rumah Gasing yang melestarikan permainan anak tradisional. Penduduk lokal juga memanfaatkan daun rasau untuk kerajinan tangan dan pengobatan kulit, menandakan hubungan yang intim antara manusia dan alam.

Konservasi: Dari Ancaman ke Ketahanan

Pada awalnya, Tebat Rasau menghadapi tekanan serius dari izin Hutan Tanaman Industri (HTI), yang mengancam keberlangsungan ekosistem dan komunitas.

Namun, berkat konsolidasi masyarakat, relawan seperti “Sahabat Alam”, dan dukungan geopark, kawasan ini akhirnya dipertahankan sebagai situs konservasi.

Upaya pelestarian tidak hanya bersifat ekologis, tetapi juga edukatif—menghubungkan generasi muda dengan jejak tanah leluhur mereka. Kini, Tebat Rasau tidak hanya melestarikan biodiversitas; ia menjadi ruang belajar, tempat ritual, dan simbol ketahanan budaya.

  • Akhlanudin Ketua Dewan Kesenian Belitung 2014 – ,2018

Artikel Terkait

InShot 20260513

Hadir di Gebyar Madrasah MTs…

Tanjungpandan, Belitung – Wakil Bupati Belitung,…

InShot 20260513

Bulog Belitung Jual 1.200 Liter…

Belitung – Perum Bulog Cabang Belitung,…

InShot 20260513

Penambangan Ilegal di Laut Ulim…

BELITUNG – Polres Belitung menegaskan akan…