
KV Senang, Tanjungpandan, Belitung
Di tengah denyut kota Tanjungpandan yang terus berubah, Kedai Mak Jannah berdiri sebagai penjaga rasa dan kenangan.
Sejak tahun 1970, kedai sederhana di kawasan KV Senang ini telah menjadi tempat perhentian wajib bagi warga lokal, pegawai PT Timah dahulu kala, pelajar, dan kini wisatawan yang mencari cita rasa autentik Belitung.
Warisan Rasa dan Daun Simpor
Sajian utama di kedai ini adalah Soto Belitung, kuliner khas yang memadukan lontong berbungkus daun simpor, bihun, suwiran daging sapi, kentang rebus, kuah santan rempah, bawang goreng, dan emping. Resepnya diwariskan secara turun-temurun, kini dijaga oleh generasi ketiga, Pak Ucu, yang tetap setia pada takaran dan teknik sang nenek.
“Kami tidak ubah rasa. Yang berubah hanya wajah kota,” ujar Pak Ucu sambil menyendok kuah santan hangat ke mangkuk pelanggan.
Pagi yang Penuh Aroma
Kedai Mak Jannah buka sejak pagi buta, dan biasanya sudah tutup menjelang siang. Aroma soto yang mengepul dari dapur kecilnya menjadi penanda pagi bagi warga sekitar. Di masa lalu, antrean pelanggan bisa mengular hingga ke trotoar, terutama saat jam masuk kerja atau sekolah.
Di Tengah Kota, Di Tengah Kenangan
Lokasinya yang strategis—dekat pasar, sekolah, dan kantor pemerintahan—menjadikan kedai ini bukan sekadar tempat makan, tapi juga ruang sosial. Di sini, obrolan ringan tentang harga lada, kabar desa, atau nostalgia masa kecil sering terdengar di antara sendok dan mangkuk.

Kuliner Sebagai Arsip Sosial
Kedai Mak Jannah bukan hanya menyajikan makanan, tapi juga menyimpan jejak sejarah kuliner dan kehidupan masyarakat Belitung.
Soto yang disajikan bukan sekadar hidangan, melainkan arsip rasa yang merekam perubahan zaman, dari masa kejayaan timah hingga geliat pariwisata.












