
Oleh: Akhlanudin
Di tengah dunia yang semakin gemar menampilkan citra, puisi Edy Sukardi “Jangan Pura-pura Baik” hadir sebagai tamparan lembut namun tajam.
Ditulis di Tokyo, 28 September 2025, puisi ini bukan sekadar keluhan atas kepalsuan, melainkan seruan untuk kembali pada kejujuran diri, pada peran yang otentik, dan pada nilai-nilai kemanusiaan yang hakiki.
Edy membuka puisinya dengan pengakuan: hidup pura-pura itu berat dan melelahkan.
Ia menyindir pencitraan yang membutuhkan “pemberitaan” dan “pembiayaan”—sebuah kritik halus terhadap budaya media, politik, bahkan kehidupan sosial yang sarat kepalsuan.
Dalam bait-bait selanjutnya, ia menyingkap berbagai bentuk kepura-puraan: menjadi suami atau istri palsu, berpura-pura bijak, berpura-pura pintar. Semua itu, katanya, hanya membuat hidup semakin “cape”.
Namun Edy tidak berhenti pada kritik.
Ia mengajak pembaca untuk tampil apa adanya, bersahaja, dan menjadi “orang baik beneran”.
Ia mengingatkan bahwa Tuhan telah menjadikan manusia sebagai “sebaik-baik umat”, maka mengapa harus berpura-pura
Salah satu bagian paling reflektif dari puisi ini adalah metafora teater: dunia sebagai panggung sandiwara.
Edy menyadari bahwa setiap manusia memainkan peran, namun ia memilih untuk memainkan peran sebagai dirinya sendiri.
Ia menolak bersandiwara, menolak diksi bersayap, dan menolak panggung depan yang berbeda dari panggung belakang.
Ini bukan sekadar kritik sosial, tapi juga refleksi eksistensial. Bahwa dalam dunia yang penuh tuntutan peran, kejujuran adalah bentuk perlawanan.
Bahwa menjadi diri sendiri adalah keberanian.
Puisi ini juga sarat nilai spiritual. Edy mengingatkan bahwa menjadi baik bukanlah soal citra, tapi soal kesadaran akan penciptaan.
Ia mengajak pembaca untuk kembali pada fitrah, pada nilai-nilai luhur yang tidak membutuhkan sorotan kamera atau pujian publik.
Dalam konteks Indonesia yang kerap diwarnai oleh politik pencitraan, budaya basa-basi, dan relasi sosial yang penuh kepalsuan, puisi ini menjadi relevan dan penting.
Ia mengajak kita untuk jujur, untuk bersahaja, dan untuk tidak terjebak dalam sandiwara sosial.
Edy Sukardi menutup puisinya dengan pernyataan tegas:
Aku berperan jadi diriku / dan aku tak berpura-pura
Ini adalah deklarasi kejujuran. Sebuah manifesto bahwa menjadi diri sendiri adalah bentuk keberanian, bahwa kejujuran adalah perlawanan, dan bahwa hidup yang otentik jauh lebih ringan dan bermakna.
Di tengah dunia yang gemar bersandiwara, puisi ini mengajak kita untuk menanggalkan topeng, memeluk kejujuran, dan memainkan peran sebagai diri kita sendiri.
Karena seperti kata Edy, hidup pura-pura itu… cape.












