Intisari Berita
- Wacana perombakan eks Sekolah Kuomintang di Tanjungpandan, Belitung, menimbulkan pro dan kontra di masyarakat.
- Wakil Bupati Belitung Syamsir mengajak budayawan, pemerhati budaya, dan masyarakat untuk meninjau langsung kondisi bangunan dan kawasan food court sebelum memberi penilaian.
- Ia menekankan agar masukan publik berdasarkan fakta lapangan, bukan sekadar opini di media sosial.
- Momentum Tahun Baru 2026 dijadikan kesempatan membuka ruang dialog dan partisipasi publik.
- Pemerintah daerah berencana mengumpulkan dokumen sejarah, foto, dan biografi sekolah untuk dipajang di kawasan, sehingga nilai sejarah tetap terjaga.
- Harapannya, kawasan eks Sekolah Kuomintang bisa berfungsi sebagai ruang publik dan ekonomi, sekaligus memiliki nilai edukasi dan sejarah bagi masyarakat Belitung.
BELITUNG – Polemik rencana perombakan bangunan eks Sekolah Kuomintang di Jalan Sriwijaya, Kecamatan Tanjungpandan, Kabupaten Belitung, terus bergulir. Wacana tersebut memunculkan pro dan kontra di tengah masyarakat, terutama di media sosial, yang menyoroti nilai sejarah bangunan sekaligus fungsi kawasan sebagai ruang publik.
Ajakan Meninjau Langsung
Wakil Bupati Belitung Syamsir menegaskan pentingnya keterlibatan publik sebelum pemerintah mengambil keputusan. Ia mengajak budayawan, pemerhati budaya, dan masyarakat luas untuk meninjau langsung kondisi bangunan eks sekolah beserta kawasan food court di sekitarnya.
“Jangan sampai berstatement, tapi belum pernah sama sekali ke lokasi,” kata Syamsir, Selasa (30/12/2025).
Menurutnya, dengan melihat langsung, masyarakat bisa memahami situasi riil, baik saat kawasan ramai aktivitas maupun ketika sepi. Hal ini diharapkan membuat masukan yang diberikan lebih objektif dan berbasis fakta lapangan.
Momentum Tahun Baru
Syamsir menyebut momentum menyambut Tahun Baru 2026 sebagai waktu tepat untuk membuka ruang dialog. Pemerintah daerah, kata dia, tetap memperhatikan berbagai aspek sebelum mengambil kebijakan, termasuk saran dan masukan dari masyarakat.
“Ini momentum tahun baru 2026. Pemerintah daerah tetap memperhatikan semua aspek, termasuk pemikiran dari masyarakat,” ujarnya.
Upaya Melestarikan Sejarah
Selain penataan fisik, pemerintah daerah berencana mengumpulkan dokumen lama terkait eks Sekolah Kuomintang, seperti foto-foto sejarah dan biografi sekolah. Dokumen tersebut akan dipajang di dinding food court dengan konsep penataan menarik.
“Supaya orang yang berkunjung tahu sejarahnya dan bisa menjelaskannya,” jelas Syamsir.
Dengan pendekatan ini, kawasan eks Sekolah Kuomintang diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai ruang publik dan ekonomi, tetapi juga tetap memiliki nilai edukasi dan sejarah bagi masyarakat Belitung.
Latar Belakang Bangunan
Eks Sekolah Kuomintang merupakan salah satu peninggalan bersejarah di Belitung. Bangunan ini menjadi saksi perjalanan pendidikan komunitas Tionghoa di masa lalu. Seiring waktu, kawasan tersebut beralih fungsi menjadi ruang publik dengan keberadaan food court dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Namun, kondisi fisik bangunan yang menua memunculkan wacana perombakan. Sebagian pihak menilai perlu ada penataan ulang agar kawasan lebih tertata dan aman, sementara pihak lain khawatir nilai sejarah akan hilang jika bangunan diubah secara drastis.
Partisipasi Publik
Syamsir menekankan, partisipasi publik menjadi kunci dalam menentukan arah kebijakan. Ia berharap masyarakat tidak hanya menyuarakan pendapat di media sosial, tetapi juga terlibat aktif dengan meninjau langsung, berdiskusi, dan memberikan masukan konstruktif.
Dengan demikian, keputusan yang diambil pemerintah daerah nantinya benar-benar mencerminkan kebutuhan masyarakat sekaligus menjaga warisan sejarah Belitung.












