BELITUNG TIMUR – Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DSP3A) Kabupaten Belitung Timur mencatat sebanyak 643 anak berada di luar sistem pendidikan formal. Data kuartal akhir 2025 yang terus diperbarui menunjukkan, sebagian anak tercatat putus sekolah (drop out), sementara lainnya sama sekali belum pernah mengenyam pendidikan.
Kepala DSP3A Beltim, Ronny Setiawan, menegaskan angka tersebut menjadi perhatian serius pemerintah daerah.
“Jumlahnya ada 643 orang. Ini harus segera ditangani agar akses pendidikan bagi anak-anak kurang mampu bisa diperluas,” ujarnya, Jumat (29/5/2026).
Anak Tak Pernah Sekolah
Dari total itu, 337 anak diketahui tidak pernah masuk sekolah dasar meski sudah berusia sekolah.
“Cukup banyak yang tidak sekolah sama sekali. Mereka seharusnya sudah masuk SD, tapi tidak pernah sekolah,” jelas Ronny.
Program Sekolah Rakyat
DSP3A kini memperketat identifikasi dan pemutakhiran data calon siswa. Langkah ini untuk memastikan program Sekolah Rakyat (SR) yang sedang digodok bersama pemerintah pusat memiliki kuota jelas.
Saat ini, DSP3A baru mengantongi data calon siswa tingkat SLTP sebanyak 188 orang.
Sebaran Calon Siswa SLTP
- Kecamatan Manggar: 71 orang
- Kecamatan Gantung: 44 orang
- Kecamatan Kelapa Kampit: 26 orang
- Kecamatan Damar: 15 orang
- Kecamatan Simpang Pesak: 14 orang
- Kecamatan Dendang: 10 orang
- Kecamatan Simpang Renggiang: 8 orang
Kuota Perdana
Ronny menyebut kuota final untuk SD, SLTP, hingga SLTA masih dalam pembahasan. Namun estimasi awal, kelas perdana akan menampung sekitar 90 siswa: masing-masing 30 di SD, SMP, dan SLTA.
Prioritas Anak Miskin Ekstrem
Ronny menegaskan, fasilitas pendidikan gratis ini hanya untuk anak-anak dari keluarga miskin ekstrem dan miskin (desil 1 dan desil 2).
“Komitmen kita jelas: mereka yang tidak pernah sekolah, putus sekolah, atau lulus tapi tidak melanjutkan, bisa memanfaatkan fasilitas ini,” tutupnya












