MEDIA DAULAT RAKYAT – Kenaikan harga timah dunia terbukti mendorong penguatan daya beli masyarakat serta menggeliatkan sektor perdagangan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel). Badan Pusat Statistik (BPS) Babel mencatat, total kontribusi sektor timah terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah ini mencapai 13,79 persen.
Secara langsung, industri logam dasar terkait timah menyumbang 8,95 persen terhadap PDRB. Kenaikan harga komoditas ini meningkatkan aktivitas pertambangan, yang kemudian berujung pada peningkatan pendapatan masyarakat.
Peningkatan ekonomi ini terlihat dari lonjakan penjualan kendaraan bermotor, serta meningkatnya permintaan produk konsumsi, layanan akomodasi, hingga makanan dan minuman.
“Aktivitas ekonomi kita ini sangat dipengaruhi dengan kondisi pertambangan timah. Salah satu contohnya pembelian mobil dan sepeda motor. Ketika kondisi timah membaik, pembelian meningkat, banyak masyarakat membeli motor dan mobil. Jadi baik secara langsung dan tidak langsung sangat mempengaruhi ekonomi Babel,” ujar Oktarizal, Statistisi Ahli Madya sekaligus Ketua Tim Kerja Neraca Wilayah dan Analisis Statistik BPS Babel.
Data ekspor mencatat, pada Mei 2026 harga timah dunia menyentuh Rp959 ribu per kilogram, mendorong nilai ekspor timah Babel mencapai Rp2,59 triliun. Pasar ekspor utama adalah Tiongkok (61,38 persen), disusul Korea Selatan dan Singapura.
Namun, fluktuasi harga tetap menjadi tantangan utama. Pada Juli 2026, harga timah turun tajam di bawah Rp150 ribu per kilogram, memicu keresahan penambang lokal. DPRD Babel pun mendesak PT Timah untuk segera menyelesaikan dokumen Rencana Kerja dan Anggaran Bisnis (RKAB).
l












