MEDIA DAULAT RAKYAT BELITUNG, 19 September 2026 – Petani Belitung berhasil memanen sekitar 2,2 ton beras dari lahan percontohan di Desa Cerucuk melalui penerapan Pertanian Cerdas Iklim (Climate Smart Agriculture/CSA). Program ini menjadi bukti bahwa adaptasi iklim mampu menjaga produktivitas pangan di tengah kemarau panjang yang diprediksi BMKG akan mundur hingga November 2026 akibat El Niño.
Panen perdana ini digelar dalam kegiatan Farm Field Day yang dihadiri pemerintah daerah, kelompok tani, dan pihak pendamping.
Fakta Utama Panen Perdana CSA
Program CSA ini dilaksanakan di lahan demonstrasi plot (demplot) dengan hasil yang cukup menggembirakan untuk ukuran lahan percontohan di tengah kekeringan.
- Lokasi: Desa Cerucuk, Kecamatan Badau, Kabupaten Belitung.
- Kelompok Tani: Agro Kenupu, dengan 20 petani anggota yang menjadi pelopor CSA.
- Pendampingan: PT Forestalestari Dwikarya (bagian dari Sinar Mas Agribusiness and Food) bersama Sekolah Tani Indonesia (SETANI).
- Hasil Panen:
- 3,9 ton Gabah Kering Panen (GKP)
- 3,2 ton Gabah Kering Giling (GKG)
- 2,2 ton beras siap konsumsi
Hasil ini dinilai sangat baik mengingat mayoritas lahan sawah di Belitung saat ini mengalami kekeringan dan gagal tanam.
Prinsip Pertanian Cerdas Iklim yang Diterapkan
CSA bukan sekadar menanam padi, tetapi mengubah pola budidaya agar tahan terhadap cuaca ekstrem.
1. Pengelolaan lahan: Memanfaatkan bahan organik lokal seperti jerami, sekam, dan kompos kotoran sapi untuk menjaga kesuburan tanah yang tandus saat kemarau.
2. Manajemen air: Efisiensi penggunaan air dengan sistem pengairan berselang (intermittent) agar tetap produktif meski debit air kecil.
3. Pemanfaatan limbah: Limbah pertanian diolah kembali menjadi pupuk organik atau bahan tambahan pakan, sehingga zero waste.
4. Adaptasi iklim: Petani dilatih membaca kalender tanam berbasis prakiraan BMKG, menghadapi cuaca ekstrem, termasuk ancaman El Niño 2026.
Pernyataan Pihak Terkait
Ketua Poktan Agro Kenupu, Pawit Usman, mengaku sangat terbantu dengan pendampingan CSA.
“Pendampingan yang diberikan membantu kami memahami kondisi lahan dan ketersediaan air, serta memanfaatkan bahan organik sekitar. Dengan cara ini, kami bisa tetap menanam dan panen meski musim kemarau panjang,” ujar Pawit.
Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Belitung, Hamzah, mengapresiasi keberhasilan demplot tersebut.
“Farm Field Day menjadi momentum untuk melihat langsung hasil penerapan CSA. Kami berharap praktik budidaya yang lebih efektif dan berkelanjutan dapat terus dikembangkan oleh kelompok tani di Belitung,” kata Hamzah.
Dampak dan Prospek ke Depan
Aspek Dampak CSA di Belitung
Produktivitas Panen perdana menghasilkan 2,2 ton beras dari lahan demplot di tengah kemarau.
Ketahanan pangan Mendukung ketersediaan pangan lokal di tengah ancaman iklim dan krisis air.
Kapasitas petani 20 petani Agro Kenupu dilatih mengelola lahan, air, dan bahan organik secara adaptif.
Kolaborasi Pemerintah, perusahaan swasta, dan masyarakat terlibat langsung dalam pendampingan.
Keberhasilan panen 2,2 ton beras ini diharapkan menjadi model percontohan yang bisa direplikasi ke 49 desa lainnya di Kabupaten Belitung. Di tengah prediksi BMKG bahwa kemarau akan lebih panjang hingga pertengahan November, praktik CSA dinilai menjadi kunci agar Belitung tidak mengalami krisis pangan.
DKPP Belitung menargetkan perluasan program CSA ke 5 kecamatan rawan kekeringan pada musim tanam Oktober 2026 mendatang.












