
Oleh : Akhlsnudin
Tanjung Gunong, Belitung — Di balik rimbunnya pepohonan dan reruntuhan bangunan tua, berdiri sunyi sisa-sisa Benteng Kuehn, sebuah situs bersejarah yang menyimpan jejak kolonialisme dan awal mula penambangan timah di Belitung.
Dibangun pada tahun 1823 oleh Kapten Kuehn, benteng ini dulunya berfungsi sebagai pusat pertahanan, tangsi militer, dan tempat tinggal pejabat kolonial.
Bukit tempat benteng berdiri, yang dikenal sebagai Bukit Kuehn atau Tanjung Gunong, awalnya diyakini sebagai bukit buatan. Namun, data geologi menunjukkan bahwa bukit tersebut terbentuk secara alami dari pelapukan batuan granit.
Dari lokasi strategis ini, aktivitas kapal di Sungai Cerucuk dan pelabuhan kota dapat dipantau dengan mudah.
Benteng Kuehn menggantikan fungsi benteng sebelumnya yang dibangun oleh de la Motte di Tanjung Simba, Cerucuk. Selain sebagai pusat pengawasan, tempat ini juga menjadi pionir pemukiman kolonial sebelum dibangunnya emplasemen resmi.
Kini, hanya sedikit yang tersisa dari kejayaan Benteng Kuehn. Bastion di sudut tenggara berupa batu karang menjadi satu-satunya bukti fisik yang tersisa. Tidak diketahui kapan benteng ini mulai ditinggalkan, namun pada tahun 1980-an, CV. Dinamika sempat mengelola area ini untuk membangun stasiun relay RTVS Dinamika.
Bangunan-bangunan yang dibangun saat itu kini rusak parah, sebagian besar atapnya hilang, dan tembok-temboknya dililit akar pohon beringin besar.
Di sisi selatan benteng, berdiri perbengkelan kapal (dockyard) yang telah beroperasi sejak tahun 1904 dan masih aktif hingga kini, menjadi saksi bisu transformasi kawasan ini dari pusat pertahanan kolonial menjadi area industri.












