BANGKA SELATAN, MEDIA DAULAT RAKYAT – Upaya pemindahan sementara layanan penyeberangan lintasan Sadai–Tanjung Ru ke Dermaga Pelabuhan Umum Sadai belum membuahkan hasil. Uji coba sandar beaching KMP Menumbing Raya pada Kamis (25/6/2026) gagal mencapai posisi aman, sehingga opsi pengalihan ke Pelabuhan Pangkalbalam, Kota Pangkalpinang kini semakin terbuka.
Jembatan MB Amblas, Uji Coba Gagal
Amblasnya jembatan movable bridge (MB) di Dermaga Pelabuhan Penyeberangan Sadai pada Selasa (22/6/2026) memaksa pemerintah mencari alternatif. Uji coba sandar beaching di dermaga umum dilakukan oleh PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Bangka bersama KUPP Kelas III Sadai.
Namun, dua kali percobaan sandar tidak berhasil. Angin dan arus dari tenggara membuat haluan dan buritan kapal sulit dipertahankan pada titik sandar yang ditetapkan. Demi keselamatan pelayaran, proses uji coba dihentikan.
“KMP Menumbing Raya tidak berhasil melakukan sandar beaching pada Dermaga Pelabuhan Umum Sadai,” ujar Mardiyanto, petugas Kesyahbandaran KUPP Kelas III Sadai, Senin (29/6/2026).
Evaluasi dan Pertimbangan Keselamatan
Mardiyanto menegaskan, hasil uji coba akan menjadi bahan evaluasi sebelum menetapkan skema operasional baru. Penilaian mencakup kondisi cuaca, karakteristik perairan, serta kesiapan lokasi sandar.
“Dengan mempertimbangkan pelaksanaan uji coba, kapal belum dapat mencapai posisi sandar yang aman dan optimal untuk mendukung kegiatan bongkar muat melalui metode beaching,” jelasnya.
Alternatif: Pangkalbalam
Seiring belum berhasilnya uji coba di Sadai, pemerintah dan pihak terkait menyiapkan alternatif operasional lintasan. Opsi yang kini dipertimbangkan adalah memindahkan sementara layanan penyeberangan ke Pelabuhan Pangkalbalam.
“Kemungkinan untuk penyeberangan ke Pelabuhan Tanjung Ru, Kabupaten Belitung, akan dilaksanakan di Pelabuhan Pangkalbalam, Kota Pangkalpinang,” pungkas Mardiyanto.
Kegagalan sandar ini menambah daftar tantangan transportasi laut di Bangka Belitung. Keputusan pengalihan ke Pangkalbalam akan berdampak pada waktu tempuh, biaya logistik, serta kenyamanan penumpang. Transparansi dan koordinasi lintas instansi menjadi kunci agar layanan penyeberangan tetap berjalan aman dan lancar.












