Media Daulat Rakyat

IMG 20260711

Goresan Puisi Epik KDB

File 0000000083ec7208b417a67c104fbcb3

TANGAN HITAM DI BAWAH TANAH

Aku berjuang.
Menggali nafkah dari perut bumi yang keras.
Tangan ini hitam oleh arang dan lumpur.
Punggung ini pegal oleh batu dan cangkul.
Demi keluarga ini, demi nasi di meja.

Siang aku di lubang.
Malam aku di jalan.
Sering dirazia aparat.
“ilegal!” teriak mereka.
Padahal yang ilegal bukan keringatku.
Yang ilegal adalah dibiarkan lapar.

Masa kampanye dulu…
Aku ada di barisan paling depan.
Teriak paling kencang.
“Bapak itu!”
Karena katanya:
“Sepuluh ribu lapangan pekerjaan. Untuk rakyat. Untuk kita.”

Sepuluh ribu janji.
Digelar seperti karpet merah.
Aku percaya.
Aku pilih.
Aku berharap lubang tambang ini
suatu hari jadi resmi,
jadi tempat kerja yang layak,
bukan tempat sembunyi.

Tapi hari ini?
Lubang masih gelap.
Razia masih datang.
Dan sepuluh ribu lapangan kerja itu…
entah dikubur di mana.

Janji politik kosong
yang berbalut dusta
tak berkesudahan.
Manis di orasi.
Pahit di ujung cangkul.

Aku tetap menambang.
Bukan karena berharap.
Tapi karena kalau berhenti,
anak-anak di rumah ikut terkubur.

Jakarta 11 Juli 2026

Akhlanudin

Artikel Terkait

InShot 20260826

Nirok Nanggok Aik Mudor: Tradisi…

Media Daulat Rakyat Belitung, Rabu 26…

Oplus

Rumah Warga di Pulau Bayan,…

Media Daulat Rakyat Belitung, 25 Agustus…