MEDIA DAULAT RAKYAT BELITUNG TIMUR, 22 Juli 2026* — DPRD Belitung Timur mendesak PT Timah Tbk segera menaikkan harga beli timah dari penambang. Targetnya, penyesuaian harga berlaku dalam pekan ini.
Desakan itu menguat setelah Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Manggar, Senin 20 Juli 2026, yang dihadiri DPRD Beltim, Pemkab, PT Timah, Kapolres, Bupati Kamarudin Muten, dan organisasi penambang KAMEK.
Selisih Harga Capai Rp90 Ribu
Saat ini harga beli resmi PT Timah ke kolektor untuk timah kadar SN72 ada di Rp234.000/kg. Namun yang diterima penambang rakyat hanya Rp130.000–Rp140.000/kg.
Selisih margin sekitar Rp90.000/kg dinilai terlalu besar dan membuat penambang terancam rugi.
Ketua DPRD Beltim Fezzi Uktolseja meminta PT Timah segera bergerak.
“Kami meminta PT Timah segera melakukan konsolidasi dengan para kolektor agar ada penyesuaian harga dalam waktu dekat,” ujar Fezzi.
Anggota Komisi II DPRD Beltim Jeli, yang juga dikenal sebagai Subandri, menyebut harga ideal yang harus diterima penambang.
“Kalau kolektor membeli Rp140 ribu, berarti masih ada selisih sekitar Rp90 ribu. Idealnya kolektor membeli ke penambang sekitar Rp175 ribu sampai Rp180 ribu per kilogram,” kata Jeli.
Penambang Ancam Aksi Besar
Koordinator penambang KAMEK, Wartha Ade Pramana, menegaskan masyarakat sudah tidak bisa bertahan dengan harga saat ini.
“Masyarakat terpaksa menjual timah dengan harga murah demi kebutuhan hidup harian. Jika tidak ada penyesuaian harga nyata dalam satu minggu, kami akan menggelar aksi lebih besar,” tegas Wartha.
Usulan dan Tenggat Waktu
Pihak Usulan Target Waktu
DPRD Beltim PT Timah segera panggil kolektor untuk konsolidasi harga Pekan ini
Anggota Komisi II Harga penambang ideal Rp175–Rp180 ribu/kg Segera
Penambang KAMEK Ancaman aksi besar jika harga tidak naik 1 minggu
Risiko Jika Tak Ada Penyesuaian
Jika harga tidak segera dinaikkan, DPRD khawatir akan terjadi aksi unjuk rasa lebih besar dan potensi instabilitas sosial di Beltim.
Sebaliknya, jika harga naik ke kisaran Rp175–180 ribu/kg, penambang bisa mendapat keuntungan lebih layak, kolektor tetap mendapat margin wajar, dan PT Timah menjaga hubungan baik dengan masyarakat lokal.
DPRD Beltim menekan PT Timah agar segera mengambil langkah konkret. Bola kini ada di tangan perusahaan dan para kolektor untuk menyelamatkan ekonomi penambang rakyst












